Berita

sabam sirait/net

Politisi Senior Sabam Sirait Dianugerahi Bintang Mahaputera Utama

KAMIS, 13 AGUSTUS 2015 | 12:21 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Negara Indonesia menganugerahi Tanda Kehormatan Republik Indonesia kepada sejumlah tokoh, yang langsung diberikan Presiden Joko Widodo di Istana Negara, sebagai bagian dari rangkaian kenegaraan dalam Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 Kemerdekaan RI (Kamis, 13/8).

Di antara tokoh yang mendapat tanda kehormatan itu adalah Sabam Sirait. Sabam dianugerahi Bintang Mahaputera Utama. Kelahiran 13 Oktober 1936 ini merupakan tokoh politik senior, yang sudah bermetamorfosis menjadi seorang negarawan.

Terkait dengan tanda kehormatan yang diterima, Sabam berterimakasih kepada negara, dan juga pemerintahan Joko Widodo. Sabam pun berharap tanda kehormatan ini memang benar-benar dilakukan melalui penelitian yang mendalam.


"Sebagai aktivis dan politisi, saya berterimakasih pada negara. Ini anugerah yang tak pernah saya impikan. Kita berbuat untuk negara dengan tulus hati," kata Sabam, yang merupakan salah seorang pendiri PDI pada tahun 1973, dengan nada merendah di Istana Negara, Jakarta (Kamis, 13/8).

Dalam kesempatan ini, Sabam mengimbau kepada Joko Widodo agar terus jujur dan bekerjakeras dalan menjalankan roda pemerintahan. Sabam sendiri mengenal Jokowi selama ini sebagai sosok yang bersih.

Terkait dengan kondisi negara saat ini, Sabam meminta agar pembangunan di Papua dan Aceh tidak boleh terlupakan. Pembangunan itu harus merata sehingga tujuan bernegara, yaitu kesejahteraan rakyat, bisa benar-benar tercapai.

Sabam Sirait, termasuk salah seorang nama besar dalam gelanggang politik Indonesia. Sabam adalah politisi yang mengalami masa pemerintahan tujuh Presiden; dari mulai Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarmoputri, Susilo Bambang Yudhoyono dan kini Joko Widodo.

Di masa pemerintahan Soekarno, sebagai aktivis mahasiswa, Sabam sudah sering menyampaikan gagasan-gagasan, bahkan dalam forum-forum mahasiswa internasional.  Di era pemerintahan Soeharto, Sabam dikenal sebagai politisi berani, kritis, namun di saat yang sama santun dalam bergaul.

Sabam, yang pernah dianugerahi Bapak Demokrasi Bangsa, dikenal juga sebagai pejuang dalam hal menegakkan demokrasi di Indonesia. Sabam pun dinilai sebagai teladan baik bagi politisi dari ragam regenerasi.

Mengabdi sebagai anggota DPR selama 27 tahun dan anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) selama 10 tahun, Sabam meninggalkan jejak pengalaman yang panjang. Sabam mengajarkan bahwa politik bukan semata menjadi alat untuk mencapai kursi kekuasan, melainkan juga menjadi medium perjuangan untuk kesejahteraan rakyat.

Selain Sabam, ada 17 penerima Bintang Mahaputra Utama. Diantaranya, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif, filusuf dan budayawan Franz Magnis Suseno, serta pengembang budaya moderat yang juga mantan Rektor IAIN Jakarta Harun Nasution.

Berdasarkan UU 20/2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, disebutkan bahwa tujuan pemberian tanda kehormatan ini adalah untuk memberi  kehormatan tinggi kepada mereka yang berjasa luar biasa guna keutuhan, kelangsungan, dan kejayaan Bangsa dan Negara. Di antara syarat penerima tanda kehormatan adalah seseorang yang  berjuang  di wilayah NKRI, memiliki integritas moral dan keteladanan, berjasa terhadap bangsa dan negara, berkelakuan baik, setia dan tidak mengkhianati bangsa dan negara.

Selain itu, juga berjasa luar biasa di berbagai bidang yang bermanfaat bagi  kemajuan, kesejahteraan, dan kemakmuran bangsa dan negara; pengabdian dan   pengorbanannya di bidang sosial, politik, ekonomi, hukum, budaya, ilmu pengetahuan, teknologi, dan beberapa  bidang lain yang besar manfaatnya bagi  bangsa dan negara; dan atau darma bakti dan jasanya diakui secara luas di tingkat nasional dan internasional. [ysa]

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

UPDATE

Realisasi Pendapatan Perparkiran di Jakarta Memble

Senin, 10 Agustus 2026 | 04:21

Keluarga Sutrimo Tak Lagi Pasrah soal Penyebab Kematian Karumga Febrie

Senin, 10 Agustus 2026 | 04:18

Rp4,1 Triliun BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II segera Cair

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:36

Penjarahan dan Keruntuhan Kota Roma, 410 M

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:16

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

Pancasila Dasar Negara Kita

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:43

Rudy Tanoe Bantah Mangkir Panggilan KPK

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:16

Waspada Banjir Rob Rendam Kawasan Pesisir Jateng

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:00

Dibuka Sayembara Rp100 Juta untuk Ijazah SMA Gibran

Senin, 10 Agustus 2026 | 01:28

Zikir Kebangsaan di Istiqlal

Senin, 10 Agustus 2026 | 01:08

Selengkapnya