Berita

Syamsul Maarif/net

Wawancara

WAWANCARA

Syamsul Maarif: Sikapi Kekeringan, Dua Bulan Lalu Kita Sudah Bicarakan Dengan TNI

KAMIS, 13 AGUSTUS 2015 | 08:10 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) merilis hasil analisa terkait kondisi iklim di Indo­nesia.

Kedua lembaga itu mem­prediksi, kondisi iklim di wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan khatulistiwa dipengaruhi El Nino Moderate. Bahkan pada November 2015 akan berpeluang menguat.

Di beberapa lokasi di Jawa, Bali, NTB dan NTT sudah terjadi kekeringan ekstrem karena tidak hujan lebih dari dua bulan, seperti di Kabupaten Cirebon dan Majalengka (Jawa Barat), Kabupaten Madiun, Lamongan, Gresik, Malang, Pasuruan dan Bondowoso (Jawa Timur), Kabupaten Buleleng, Bangli (Bali). Pulau Lombok, Sumbawa Besar, Bima (NTB) dan Pulau Sumba, Pulau Timor (NTT).


Akibat kekeringan melanda beberapa daerah di Tanah Air itu mengakibatkan puluhan ribu hektar sawah gagal panen. Kalau pun panen, hasilnya berkurang.

Diperkirakan, cadangan air tanah di Indonesia masih bisa digunakan untuk mandi dan minum masyarakat hingga November 2015. Kekeringan yang terjadi di Indonesia dalam be­berapa waktu ini disebabkan oleh fenomena El Nino atau anomali suhu permukaan laut samudera Pasifik.

Menanggapi hal itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif mengaku pihaknya sudah mengantisipasi terjadi kekeringan dari bulan lalu dan membuat data kekeringan di wilayah Indonesia agar tak tert­inggal untuk hujan buatan.

"Kami terus memperbaharui data kekeringan. Data itu men­jadi rekomendasi BNPB dalam mengantisipasi kekeringan den­gan membuat hujan buatan," kata Syamsul Maarif, di Jakarta, Senin (10/8). Berikut kutipan selengkapnya:

BNPB bekerja sama dengan siapa saja untuk melakukan hujan buatan?
Kami bekerja sama dengan TNI untuk menebar hujan bua­tan. Ini sudah dibicarakan dari dua bulan lalu. Sebab, sudah diprediksi terjadi kekeringan sampai November 2015.

Kerja sama dengan TNI itu dalam hal apa?
Kerja sama dengan TNI dalam bentuk penggunaan pesawat. BNPB akan menggunakan pe­sawat Hercules, Casa 295, Casa 212, dan satu tambahan Casa milik Kementerian Pertanian untuk menebar hujan buatan.

Apa pesawatnya sudah siap?
Sudah, sudah disiapkan pesa­watnya. Pesawatnya sudah ada. Mudah-mudahan sudah bisa terbang. Kita sudah siapkan ang­garan Rp 200 miliar untuk tahap pertama hujan buatan di Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, dan Nusa Tengggara Barat.

Bagaimana soal awan?
Mudah-mudahan juga didu­kung ketersediaan awan.

Bagaimana upaya antisipasi lainnya?
BNPB menginisiasi pembu­kaan posko terpadu di kantor Kementerian Pertanian guna mengatasi kekeringan. Langkah penanggulangan ini akan di­siapkan BNPB bersama sejum­lah lembaga seperti Kepolisian, TNI, BMKG, BNPB, Bulog, BPPT, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kemendag dan Kementerian ESDM.

Hal ini diharapkan bisa men­gatasi masalah kekeringan. BNPB menindaklanjuti penang­gulangan kekeringan di sejum­lah wilayah dengan menurunkan hujan buatan. Alokasi anggaran yang disediakan Rp 200 miliar.

Pemerintah terus memper­baharui data perkembangan kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. Data itu menjadi rekomendasi BNPB dalam men­gantisipasi kekeringan dengan membuat hujan buatan. ***

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Jasa Kiai Kampung

Minggu, 30 Agustus 2026 | 04:26

Waketum MUI Usul Gaji Guru Pesantren di Atas UMR

Minggu, 30 Agustus 2026 | 04:16

Jangan Takut Kritik Pemerintah

Minggu, 30 Agustus 2026 | 04:04

Saham BYAN Mencuat, IAW Ingatkan soal Pengawasan Regulator

Minggu, 30 Agustus 2026 | 03:20

Melawan Amplop di Muktamar NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 03:08

Program Streamlining Danantara Tak Boleh Identik dengan PHK

Minggu, 30 Agustus 2026 | 02:38

Investor Diajak Terlibat 37 Proyek Investasi Strategis di Jakarta

Minggu, 30 Agustus 2026 | 02:17

Budi Arie Tolak Cabut Analisis Pemilu sebelum 2029

Minggu, 30 Agustus 2026 | 02:02

Jangan Berhenti pada Janji 15 Desember

Minggu, 30 Agustus 2026 | 01:35

Pajak Diduga Bocor Rp5 Triliun, Purbaya Kantongi 40 Nama Perusahaan Baja

Minggu, 30 Agustus 2026 | 01:21

Selengkapnya