Berita

dradjad h wibowo/net

Dradjad H Wibowo: Kenapa Jokowi Masih Percaya Mafia Berkeley?

KAMIS, 13 AGUSTUS 2015 | 07:56 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Reshuffle dalam bentuk apapun tidak akan menolong rupiah, apabila dilihat dari sisi pelemahan rupiah dan dampaknya terhadap perekonomian.

Demikian disampaikan ekonom senior dari Sustainable Develompment Indonesia (SDI), Dradjad H Wibowo. Menurut Dradjad, tindakan pelaku pasar keuangan global sekarang dipengaruhi dua hal. Pertama, ekspektasi dan spekulasi terhadap kenaikan suku bunga the Fed.

Kedua, kekagetan yang luar biasa terhadap devaluasi Yuan, yang berlawanan dengan keputusan perubahan kebijakan ekonomi partai komunis China yang mengurangi ketergantungan terhada ekspor, dan sinyal dari pemerintah China sendiri. Hal ini semakin meyakinkan pasar bahwa perang mata uang (currency war) memang sedang terjadi, dan bank-bak besar di G7 bahkan masih yakin dolar AS akan terus menguat hingga kuartal pertama 2016.


"Saya melihat proyeksi mereka untuk Rupiah di akhir 2015 bervariasi antara Rp 14.000-Rp 15.000. Indonesia dan Rupiah itu pemain gurem di pasar keuangan. Cadangan devisa-nya pun sangat kecil untuk ukuran global," ungkap Dradjad kepada Kantor Berita Politik RMOL beberapa saat lalu (Kamis, 13/8).

Bahkan, lanjutnya, seandainya seluruh kabinet diisi kader-kader mafia Berkeley, maka mereka tidak akan sanggup membuat rupiah melawan arus. Jadi, Indonesia memang hanya bisa mengusahakan agar depresiasi rupiah tidak terlalu besar. Bersama ringgit Malaysia, rupiah sekarang menjadi mata uang berkinerja terburuk di Asia, dan pengamanan rupiah harus jadi fokus Presiden.

"Saya hanya menyayangkan, Presiden Jokowi terjebak seperti pendahulunya, tidak berani lepas dari mafia Berkeley. Bahkan saya mendapat info, Lapangan Banteng serius mengkaji akan mengambil tambahan utang dari Bank Dunia dan ADB," ungkap Dradjad.

Dradjad pun mengingatkan Presiden, selama bertahun-tahun, empat pilar penjaga keuangan Indonesia itu sering dikuasai mafia Berkeley. Dan faktanya, Indonesia sering dihajar krisis rupiah yang sangat serius.

"Keempat pilar itu Kemenkeu, BI, OJK dan LPS. Percaya saya, ideologi dan kebijakan Mafia Berkeley itu berbenturan keras dengan Nawa Cita dan ideologi pro ekonomi rakyat. Jadi, kenapa Presiden masih percaya Mafia Berkeley?" demikian Dradjad. [ysa]

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

UPDATE

Realisasi Pendapatan Perparkiran di Jakarta Memble

Senin, 10 Agustus 2026 | 04:21

Keluarga Sutrimo Tak Lagi Pasrah soal Penyebab Kematian Karumga Febrie

Senin, 10 Agustus 2026 | 04:18

Rp4,1 Triliun BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II segera Cair

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:36

Penjarahan dan Keruntuhan Kota Roma, 410 M

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:16

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

Pancasila Dasar Negara Kita

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:43

Rudy Tanoe Bantah Mangkir Panggilan KPK

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:16

Waspada Banjir Rob Rendam Kawasan Pesisir Jateng

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:00

Dibuka Sayembara Rp100 Juta untuk Ijazah SMA Gibran

Senin, 10 Agustus 2026 | 01:28

Zikir Kebangsaan di Istiqlal

Senin, 10 Agustus 2026 | 01:08

Selengkapnya