Berita

Dunia

LAPORAN DARI KOLOMBIA

Perdamaian Antara Pemerintah Kolombia dan Pemberontak Semakin Terang

KAMIS, 13 AGUSTUS 2015 | 02:34 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Proses perdamaian antara kelompok pemberontak Kolombia, FARC dengan pemerintah semakin menemui titik terang.

Sebelumnya, babak baru perdamaian antara kedua belah pihak dimulai pada tanggal 12 Juli lalu ketika perwakilan pemerintah Kolombia dan FARC bertemu dan sepakat untuk mulai meredam konflik yang terjadi.

Kemudian pada tanggal 20 Juli, FARC menunjukkan itikad baik dengan melakukan gencatan senjata sepihak, bertepatan dengan perayaan 205 tahun kemerdekaan Kolombia.


Gencatan senjata tersebut sekaligus menandai berakhirnya situasi rumit yang terjadi sejak tiga bulan terakhir di mana kekerasan mencapai tingkat terburuk sejak pembicaraan damai November 2012.

Inisiatif FARC untuk melakukan gencatan senjata tersebut disambut baik oleh pemerintah Kolombia.

Pada tanggal 23 Juli, perwakilan pemerintah Kolombia dan perwakilan FARC menggelar pertemuan di Havana dengan dimediasi oleh PBB. Dalam pertemuan itu disepakati bahwa kedua belah pihak berkomitmen untuk mencapai perdamaian permanen dengan memulai proses negosiasi.

Menyusul pertemuan tersebut, Presiden Kolombia Juan Manuel Santos kemudian memerintahkan agar pasukannya menghentikan serangan ke basis FARC. Ia pun menegaskan bahwa setiap serangan hanya boleh dilakukan di bawah perintah presiden.

Proses perdamaian kedua belah pihak pun kemudian disepakati akan berlangsung selama empat bulan hingga batas waktu November mendatang. Setelah itu, kedua belah pihak akan mempertimbangkan proses yang berlangsung dan mengambil langkah selanjutnya.

Pihak FARC sendiri, merujuk pada surat kabar The Bogota Post edisi terbaru, menekankan bahwa mereka menuntut keadilan bagi kedua belah pihak dan menyerukan dibuatnya Komisi Kebenaran atau Truth Comission.

Menurut negosiator FARC, Ricardo Tellez, pihaknya tidak menuntut impunitas atau kebebasan hukum

"Kami ulangi, sebelum menerapkan proses keadilan kriminal, sangat penting untuk mengetahui kebenarannya terlebih dahulu," kata Tellez di Havana beberapa waktu lalu.

Perlu diketahui, konflik antara FARC dan pemerintah Kolombia tidak terjadi di kota-kota besar di kolombia,  melainkan di kawasan dekat hutan di bagian selatan negara tersebut.

"Konflik dengan FARC sama sekali tidak akan terlihat di Bogota atau kota-kota besar lainnya di Kolombia," ujar seorang mahasiswi yang ditemui Rakyat Merdeka Online di kampus Universidad Externado de Colombia.[zul]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya