Berita

Tradisi NU yang Baik; Salah Siapa?

SELASA, 04 AGUSTUS 2015 | 18:03 WIB

SEBENARNYA saya malu menyaksikan rapat pleno yang berlangsung kemarin malam (Minggu 2/8). Rapat yang membahas tatib muktamar jadi sangat panas dan gaduh ketika membahas konsep pemilihan Rais Am dengan sistem musyawarah terbatas atau Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa).

Tapi sebagai jamiyyah yang besar, NU memang memiliki warga dengan asal usul, basis pengetahuan dan kepentingan yang plural, unik dan sekaligus rumit.

Hanya segilintir orang yang berteriak dengan suara tinggi saat mengungkapkan pendapatnya. Sebagian besar peserta menyimak perdebatan itu dengan rendah hati atau tawadhu' dan tetap ta'dzim kepada sesama kiai. Ini yang membuat saya yakin bahwa "kericuhan" kemarin malam hanya "dinamika" organisasi sebesar NU. Semua peserta muktamar tidak akan lelah menjaga karakter ke-NU-an  sebagaimana cita-cita para ulama pendiri NU.


Ada yang mengatakan muktamar NU di Jombang ini lebih ramai dan keras daripada Muktamar ke 32 di Makasar. Saya yang hadir dalam Muktamar NU sejak Muktamar Situbondo baik sebagai penggembira maupun sebagai Peninjau melihat Muktamar ke 33 di Jombang sangat ramai dengan Muhibbin,  menguras emosi muktamirin terutama soal Ahwa dan sama-sama berpotensi mengacaukan akal sehat karena munculnya perang opini dan juga isu money politic.

Akibatnya, ketegangan di kalangan internal NU menjadi semakin mengental. Yang menolak Ahwa seperti Gus Sholah dan Khofifah Indar Parawansa menilai bahwa Ahwa ini dipaksakan karena jadi agenda politis salah satu Partai Politik (baca: PKB). Sementara Saifullah Yusuf yang menerima Ahwa menilai pemilihan langsung adalah pola demokrasi liberal yang tidak sesuai dengan tradisi jamiyyah uUlama ini. Mereka yang menolak Ahwa takut kepentingan dan calonnya tidak lolos.

Dalam perjalanannya NU selalu mengalami perdebatan sengit untuk suatu persoalan yang penting. Ambil misal, kasus metode pembelajaran modern ala KH. Wahid Hasyim membuat banyak kiai ramai-ramai menuduhnya tasyabuh (menyerupai) orang kafir. Perdebatan kiai Wahab Hasbullah dengan kiai Bisri soal posisi partai NU dalam badan legislasi bentukan Presiden Soekarno. Soal Asas Tunggal Pancasila yang harus dijelaskan KH. Ahmad Siddik bahwa itu tidak bertentangan dengan Agama. Last but not lease, bagaimana kegaduhan soal prilaku tokoh fenomenal NU, Gus Dur yang menjadikan sikap mufaroqoh kiai Besar NU, KH. Asad Syamsul Arifin.

Tapi NU memiliki tradisi mengakhiri gegeran atau pertikaian menjadi ger-geran atau senda gurau. Tradisi ini yang berakar dari karakter NU yang penuh tawadhu' , toleran dan saling menghormati.

Konsep pemilihan Rais Aam melalui mekanisme Ahwa seharusnya mencegah terjadinya money politics. Yang setuju atau tidak melakukan pemaksaan kehendak apalagi money politic.

Akan sangat mengkhawatirkan adalah kooptasi dan campur tangan pihak lain yang tidak mau NU besar. Orang-orang yang menginginkan negara ini kacau supaya dengan mudah diadu domba dan diekspolitasi sumberdaya alamnya maka salah satu jalannya adalah menghancurkan NU.  Sebagai Ormas yang teruji dan terbukti mengawal nilai keislaman yang toleran dan progressif, NU adalah penghalang dan musuh utama para mafia, koruptor dan kelompok radikal anarkis.

Yang membuat saya miris adalah money politic dan rebutan jabatan.

Dalam tradisi NU jabatan Rais Am dipandang sebagai sebuah amanah yang berat, bukan jabatan duniawiah. Bukan jabatan yang diperebutkan seperti kedudukan kepala desa.

Saya hanya bisa mengajak semua warga NU berdoa agar Muktamar ini berjalan lancar dan sukses. Jangan ada yang terpengaruh kekuatan di luar NU yg mencoba mengkooptasi dan mengganggu muktamar ini.

Yang dikhawatirkan adalah bila karakter ke-rendahati-an hilang maka ini sangat mencoreng kemuliaan Jombang dan para Ulama besar yang mendirikan NU di Jombang ini.

Sebagai Ormas terbesar di Republik ini, NU jadi tumpuan masyarakat Indonesia dan Dunia untuk menjadi lokomotif perubahan dan perdamaian demi terwujudnya sebuah perdaban yang menghargai nilai keadilan dan kemanusiaan.

Untuk calon ketua umum saya berharap muktamar ini meneguhkan kembali presatasi yang ditorehkan para ketua sebelumnya yaitu meng-go-international-kan NU, menyebarkan Islam rahmatan lil alamiin, dan mendakwahkan bi lisaanil maqaal serta bilisaanil haal ukhuwwah nahdliyah, ukhuwwah Islamiyah, ukhuwwah wathaniyah, dan ukhuwwah basyariyah.[***]

KH Maman Imanulhaq
Pimpinan Pondol Pesantren Al Mizan Majalengka, Jawa Barat; anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKB



Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya