Berita

ilustrasi/net

Dunia

MARI Teliti Kemungkinan Tradisi Megalitik di Ciptagelar

SELASA, 04 AGUSTUS 2015 | 15:12 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Masyarakat Arkeologi Indonesia (MARI) menggelar survei awal di Kasepuhan Ciptagelar Kabupaten Sukabumi Jawa Barat baru-baru ini. Survei tersebut dilakukan untuk melihat kemungkinan tradisi megalitik atau batu besar yang masih dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Halimun itu.

Arkeolog yang juga merupakan Ketua MARI, Dr. Ali Akbar dalam rilis yang diterima redaksi (Selasa, 4/8) mengatakan bahwa Ciptagelar dipilih sebagai lokasi survei untuk melihat kemungkinan masyarakat dengan kearifan lokal berinteraksi dengan gunung, batu besar, dan hutan.

Ia menjelaskan bahwa di Indonesia, situs megalitik cukup banyak ditemukan, salah satu yang fenomenal adalah Situs Gunung Padang di kabupaten Cianjur Jawa Barat.


Namun demikian, situs Gunung Padang pada masa lalu telah ditinggalkan oleh masyarakatnya sehingga peneliti saat ini sulit untuk merekonstruksi kehidupan masyarakat masa lalu.

Kata Ali, dalam ilmu arkeologi dikenal kajian etnoarkeologi atau meneliti masyarakat masa kini yang diperkirakan masih menjalankan tradisi ratusan atau mungkin ribuan tahun. Selanjutnya, pengetahuan tersebut dianalisis dan digunakan untuk merekonstruksi kehidupan masyarakat masa lalu.

Namun demikian hasil etnoarkeologi tidak serta merta dapat langsung digunakan untuk merekonstruksi masyarakat masa lalu. Kendati begitu, kajian tersebut dapat ditempuh dan dikombinasikan sambil terus melakukan survei permukaan tanah dan ekskavasi arkeologi.

Menurutnya, situs dan lokasi yang diteliti juga harus cukup banyak. Untungnya situs di Indonesia jumlahnya berlimpah karena itu diyakini pernah ada peradaban besar di Indonesia.

"Semoga dengan upaya-upaya tersebut, peradaban 'The Great Indonesia' sedikit demi sedikit akan terungkap," sambungnya.

Survei awal itu sendiri rencananya akan diikuti dengan kegiatan Lacak Artefak. Lacak Artefak telah dilakukan di berbagai daerah dan melibatkan masyarakat setempat, pemerintah daerah, dan komunitas. Komunitas yang terlibat di antaranya adalah para pilot dari Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI), pesepeda Bike To Work (b2w) Indonesia,  anggota Pramuka, komunitas motor trail Track,  mahasiswa Geographical Mounteneering Club (GMC) UI, pegiat kreatif dari Genkreatif. [mel]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya