Berita

Ini Penyebab Muktamar NU Ricuh, Panitia Harus Introspeksi

SELASA, 04 AGUSTUS 2015 | 14:50 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Sejumlah insiden kericuhan dalam Muktamar NU ke 33 harus menjadi pelajaran bagi para pengurus NU dan panitia.

Sebab, muara kericuhan tersebut sebenarnya berasal dari panitia dan elit PBNU yang seolah sengaja berpolemik dengan mengabaikan AD-ART, serta membiarkan intervensi partai politik dalam sejumlah kegiatan formal muktamar.

Hal itu diungkapkan sejumlah peserta Muktamar yang mengaku prihatin pada berbagai gejala kecurangan yang dilakukan secara sistematis oleh panitia muktamar.


Rais Syuriah PWNU Lampung, Aliman Marzuqi mengungkapkan, indikasi tersebut terlihat sejak menjelang Muktamar, yakni dengan adanya upaya penerapan sistem Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa) secara paksa oleh panitia dan elit PBNU.

Pemaksaan kata Aliman sudah mengarah pada premanisme.

"Karenanya kami menolak cara-cara premanisme tersebut," ujarnya, Selasa (4/7).

Ia menguraikan, sejak awal, Ahwa mendapat penolakan karena tak sesuai AD-ART. Tapi terus dipaksakan dengan berbagai cara. Dari mulai registrasi peserta yang diwajibkan menandatangani form persetujuan Ahwa hingga mengulur-ulur waktu persidangan dan mempersulit peserta yang menolak Ahwa.

"Padahal jika sejak awal Muktamar Panitia dan elit PBNU sadar dan tidak memaksakan upaya pelanggaran AD-ART, muktamar berjalan lancar. Buktinya, setelah Ahwa dibatalkan, semua sidang komisi hingga LPJ tidak terjadi insiden apapun," ujarnya.

Penolakan sistem Ahwa menurut Aliman, bukan tanpa sebab. Hal itu terjadi lantaran sembilan puluh persen Mmktamirin memang taat AD-ART dan mengetahui adanya indikasi kecurangan yang akan dilakukan melalui sistem tersebut. Kecurangan para pendukung Ahwa tersebut diantaranya dilakukan melalui upaya suap terhadap para pengurus wilayah dan cabang NU, serta intervensi dan intimidasi yang dilakukan oleh partai politik.

Adanya upaya penyuapan dan intervensi Parpol diakui sejumlah Muktamirin. Ketua PCNU Rokan Hulu Riau, H. Muhyiddin, misalnya, mengaku didekati Ketua PKB  Siak, Riau yang memintanya menandatangani persetujuan Ahwa dengan bayaran Rp 20 Juta.

"Awalnya dia menawarkan Rp 10 juta, kemudian meningkat Rp 15 juta hingga Rp 20 juta agar mau mengajukan Sembilan nama calon Ahwa. Ini kan riswah (penyuapan)," tandasnya.[dem]

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Mafia Infrastruktur Diduga Kepung Menteri Dody Lewat Isu Miring

Kamis, 06 Agustus 2026 | 00:05

Menhan hingga Ketua Komisi I DPR Terima Brevet Korps Marinir

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:46

Ketimpangan Penduduk Meningkat, Gini Ratio Naik ke 0,368

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:22

Mahkamah Agung Diminta Evaluasi Ketua PN Jakarta Timur

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:38

Gempa M 6,4 Guncang Kepulauan Talaud, Tidak Ada Korban Jiwa

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:31

Kader Golkar Wonosobo Ngadu ke DPP soal Dua Kali Musda

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:14

Di Balik Tribun Sunyi Piala Presiden, Puluhan Pecalang Jaga Harmoni El Clasico

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:09

Kisruh Diadukan ke Bahlil, Mafa Uswanas Diusulkan jadi Plt Ketum AMPI

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:50

Pergeseran Public Goods Sektor Kesehatan

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:40

BRAINS Demokrat Kolaborasi Bareng IRI Perkuat Demokrasi Lintas Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:17

Selengkapnya