Berita

Gerindra: Jangan Salahkan Jokowi di Balik Hancurnya Ekonomi RI

JUMAT, 31 JULI 2015 | 22:27 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Jangan meyalahkan dan mendeskreditkan Presiden Joko Widodo dibalik terjadinya perlambatan ekonomi Indonesia. Sebab, keadaan saat ini bukan disebabkan oleh kebijakan ekonomi pemerintahan Jokowi tapi karena salah manajemen pemerintahan era Susilo Bambang Yudhoyono.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum DPP Gerindra, Arief Poyuono dalam keterangannya kepada redaksi, Jumat (31/7).

"Sangat naif kalau hari ini semua kehancuran ekonomi dan pranata sosial di masyarakat disalahkan kepada Jokowi Karena Jokowi. Hari ini istilahnya bukan hanya cuci piring akibat pestanya SBY, tapi harus bayarin biaya pestanya SBY yang penuh dengan korupsi dan tumpukan hutang luar negeri," katanya.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi yang negatif di kuartal I dan kuartal II, ambruknya nilai kurs rupiah terhadap dolar AS dan lesunya ekonomi nasional lebih disebabkan oleh 10 tahun kinerja ekonomi pemerintahan SBY yang tidak berbuat apa-apa. Tidak ada langkah-langkah untuk memperkuat fundamental ekonomi nasional, dan banyak kebijakan ekonomi yang dibuat sangat neolib dan berpihak pada pasar bebas.

Selain itu, selama SBY memimpin hutang luar negeri Indonesia meningkat 500 persen dari tahun 2004 sampai dengan 2019. Dimana SBY banyak jual obligasi negara, SUN, privatisasi BUMN tapi tidak jelas penggunaannya dan marak dengan korupsi.

"Jadi hari ini pemerintahan Jokowi harus menanggung beban utang dan kekeringan serta ancaman krisis pangan," imbuhnya.

Dia mengatakan kita tidak boleh melupakan pemerintahan SBY yang sudah membuat utang luar negeri menumpuk dan korupsi yang segunung, yang menyebabkan beban ekonomi Indonesia menjadi berat dan harus ditanggung oleh rakyat .

Namun begitu, kata Arif, Jokowi jangan banyak beretorika dalam mengatasi persoalan ancaman krisis ekonomi saat ini. Apalagi tidak ada satupun program pemerintahan Jokowi yang berhubungan dengan APBN yang dipersulit oleh DPR.

"Jokowi harus serius dan bila dirasa Menteri Menteri nya Kurang mampu ya segera saja direshuffle," tukasnya.[dem]

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Penempatan Manajer Kopdes Harus Dilakukan Agar Tidak Terjadi Pemborosan APBN

Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:24

Industri Alas Kaki Serap 3,8 Juta Pekerja

Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:18

SHOW Token Siap Listing di Indodax, Bidik Perluasan Pasar Indonesia

Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:14

Indonesia Gandeng Panama Perluas Kerja Sama Ekonomi dan Investasi

Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:11

Nikita Bier Mundur dari Jabatan Kepala Produk X

Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:02

BNBR Jadi Sorotan, Ratusan Juta Saham Diperdagangkan Pagi Ini

Kamis, 06 Agustus 2026 | 09:49

Zulhas Bongkar Fenomena Kepala Daerah Disponsori "Toke"

Kamis, 06 Agustus 2026 | 09:28

Antusiasme Membludak, 128 Ribu Orang Berebut Tiket Upacara HUT Ke-81 RI

Kamis, 06 Agustus 2026 | 09:16

Ekonomi Kuartal II Tumbuh 5,29 Persen, DPR Soroti Ketergantungan pada Konsumsi

Kamis, 06 Agustus 2026 | 09:13

Kemenag Rilis 40 Buku Digital PAI, Terintegrasi dengan Teknologi AI

Kamis, 06 Agustus 2026 | 09:06

Selengkapnya