Berita

jokowi dan rizal ramli/net

Artikel Rizal Ramli di WSJ, Tanda Reshuffle Semakin Dekat?

JUMAT, 31 JULI 2015 | 12:30 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Ekonom senior DR. Rizal Ramli menulis opini di Wall Street Journal edisi hari ini (Jumat, 31/7). Di dalam tulisannya, Rizal Ramli yang kini dipercaya menduduki kursi Komisaris Utama PT BNI 46 menjelaskan tantangan berat yang dihadapi pemerintahan Joko Widodo baik di lapangan ekonomi juga di arena politik.

Dia menjelaskan bahwa pelambatan ekonomi global yang kerap dijadikan kambing hitam penyebab pelemahan ekonomi nasional dapat dihadapi dengan sejumlah kebijakan konkret.

Bagi kalangan yang mengikuti sepak terjang Rizal Ramli dari dekat, pandangan-pandangan yang disampaikannya dalam kolom opini di WSJ ini dipengaruhi oleh pendekatan struktural yang digunakan Rizal Ramli dalam melihat persoalan ekonomi. Dia berpendapat bahwa tidak jalan keluar umum yang berlaku untuk semua kondisi perekonomian.


Maka dari itu, sebaik-baik kebijakan ekonomi adalah yang memperhatikan dan mempertimbangan struktur ekonomi nasional sehingga jalan keluar yang dipilih memang menyelesaikan masalah, bukan membuat masalah baru.

Pendekatan ini juga yang digunakan Rizal Ramli saat dia dipercaya menduduki sejumlah jabatan di tim ekonomi pemerintahan Abdurrahman Wahid (1999-2001), mulai dari Kepala Bulog, Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan. Karena itulah Rizal Ramli dikenal sebagai Tuan Terobosan atau Mr. Breakthrough.

"Terlepas dari apa yang Presiden Jokowi dan penasihat-penasihatnya ingin percaya, badai ekonomi terus berputar," tulis Rizal Ramli di WSJ.

Badai ekonomi yang dimaksud Rizal Ramli adalah ketidakpastian perekonomian global yang terus berlangsung, juga pertumbuhan ekonomi China yang lebih rendah sementara China beberapa tahun belakangan ini memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, juga penurunan harga komoditas. Selain kepercayaan investor yang rendah untuk menanamkan modal di Indonesia.

Akibat dari badai ekonomi itu, pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini direncanakan kurang dari 5 persen, pertumbuhan dalam dua kuatal terakhir negatif, dan mungkin sekali Indonesia belum menyentuh dasar dari krisis.

"Walaupun faktor-faktor eksternal itu bisa menjelaskan sebagian penyebab pelambatan ekonomi kita, namun bagian terbesar (dari masalah ini) berada di sisi kebijakan pemerintahan Indonesia, yang kebanyakan diwarisi dari pemerintahan yang lalu," tulis Rizal Ramlli lagi.

Rizal Ramli memuji langkah awal pemerintahan Jokowi untuk memotong anggaran yang tidak penting. Tetapi tidak terlihat ada prioritas yang jelas. Hanya bagus untuk urusan public relations.

"Sekarang saatnya untuk membuat prioritas yang jelas," tegas Rizal Ramli.

Penasihat ekonomi PBB ini juga mengatakan hambatan terbesar dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah realisasi penyerapan anggaran pembangunan infrastruktur yang sangat kecil. Setengah tahun terakhir hanya sekitar delapan persen anggaran pembangunan infrastruktur yang dapat diserap.

Ini memperlihatkan ada masalah bottleneck. Bila tidak bisa diselesaikan ini bisa menjadi ancaman serius untuk perekonomian nasional baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Rizal Ramli juga mengatakan, revaluasi aset BUMN dapat menjadi jalan keluar dari persoalan kebutuhan dana segar. Banyak aset BUMN yang belum pernah direvaluasi sejak berdiri. Sehingga harga bukunya kecil.

Rizal Ramli juga mengatakan perlu upaya segera untuk memberantas mafia pangan yang membuat kebutuhan dan pengeluaran masyarakat jadi semakin tinggi.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah, kalau hal-hal itu bisa dikatakan dengan mudah, apakah juga bisa dikerjakan dengan mudah?

Tentu saja tidak. Terlebih bila tim ekonomi yang dibentuk Jokowi tersandera oleh kepentingan politik jangka pendek yang ada di sekitarnya.

Maka, langkah pertama dari upaya menjawab tantangan di lapangan ekonomi itu adalah, apakah Jokowi dapat menyusun tim ekonomi yang tidak hanya diisi oleh nama besar, tetapi juga tokoh yang punya track record untuk melakukan pekerjaan besar ini.

Jelas dari apa yang tengah terjadi, pekerjaan besar membenahi perekonomian nasional ini hanya bisa dikerjakan oleh ekonom yang memiliki keberpihakan terhadap nasib rakyat banyak.

Di kalangan analis politik, artikel Rizal Ramli yang dimuat di tengah wacana kocok ulang kabinet menjadi semacam pertanda bahwa dalam waktu dekat akan terjadi perubahan berarti di tubuh pemerintahan.

Kalangan yang dekat dengan Istana mengatakan, bahwa apa-apa yang ditulis Rizal Ramli dalam artikel itu telah disampaikan langsung kepada Presiden Jokowi belum lama ini. [dem]

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Penempatan Manajer Kopdes Harus Dilakukan Agar Tidak Terjadi Pemborosan APBN

Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:24

Industri Alas Kaki Serap 3,8 Juta Pekerja

Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:18

SHOW Token Siap Listing di Indodax, Bidik Perluasan Pasar Indonesia

Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:14

Indonesia Gandeng Panama Perluas Kerja Sama Ekonomi dan Investasi

Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:11

Nikita Bier Mundur dari Jabatan Kepala Produk X

Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:02

BNBR Jadi Sorotan, Ratusan Juta Saham Diperdagangkan Pagi Ini

Kamis, 06 Agustus 2026 | 09:49

Zulhas Bongkar Fenomena Kepala Daerah Disponsori "Toke"

Kamis, 06 Agustus 2026 | 09:28

Antusiasme Membludak, 128 Ribu Orang Berebut Tiket Upacara HUT Ke-81 RI

Kamis, 06 Agustus 2026 | 09:16

Ekonomi Kuartal II Tumbuh 5,29 Persen, DPR Soroti Ketergantungan pada Konsumsi

Kamis, 06 Agustus 2026 | 09:13

Kemenag Rilis 40 Buku Digital PAI, Terintegrasi dengan Teknologi AI

Kamis, 06 Agustus 2026 | 09:06

Selengkapnya