Berita

joko widodo/net

Politik

Rombak Kabinet Jokowi Tak Semudah SBY

SELASA, 28 JULI 2015 | 14:07 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Kendati hampir satu tahun duduk di kursi presiden, namun Joko Widodo dan kabinetnya masih belum bekerja dengan baik untuk menangani sejumlah masalah, baik politik, hukum maupun ekonomi.

Sejumlah organisasi asing, akademisi dan pengamat ekonomi dari sejumlah negara telah mengulas soal kinerja Jokowi tersebut beberapa waktu terakhir.

"Presiden Joko Widodo masih terus bergelut dengan posisinya sejak hampir setahun menjabat. Kegagalan untuk menstabilkan koalisi, meloloskan legislasi, dan memperbaiki lingkungan investasi bisa lebih lanjut merusak prospek jangka panjang bagi perekonomian," kata Deutsche Bank dalam sebuah laporan pekan lalu.


Kekhawatiran serupa juga dilontarkan oleh IMA Asia dalam laporan terbaru. Ketidakpastian prospek membuat investor merasa khawatir. Terlebih lagi, adanya tren penurunan nilai tukar rupiah dengan dolar AS yang terus terjadi untuk ketujuh kalinya dalam dua bulan terakhir. Kurs saat ini bahkan menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bahkan telah menembus angka 13.500.

"Untuk memulai membersihkan rintangan seperti, Jokowi harus merombak kabinetnya, tapi apakah akan mengarah ke kabinet yang lebih baik atau lebih buruk adalah masalah politik terbesar untuk tahun 2015," kata IMA Asia seperti dimuat CNBC (Selasa, 28/7).

Namun demikian, melakukan perobakan kabinet bagi Jokowi bukanlah hal yang mudah. Terutama bila mengingat posisi Jokowi yang tidak mendominasi di partai pengusungnya, PDIP.

"Tidak seperti mantan Presiden Yudhoyono yang mendominasi partai politiknya, Jokowi memiliki ruang politik yang terbatas dalam menyusun kabinetnya bekerja, dan cenderung memiliki kebebasan terbatas di reshuffle itu juga," kata laporan dari Nanyang Technological University Singapura (NTU) baru-baru ini.

Namun di sisi lai, masih kata laporan NTU, Jokowi juga memiliki tugas untuk mempertahankan loyalitas anggota koalisinya dengan memasukan kader mereka di kabinet. Bila tidak, koalisi bisa saja membelot.

"Pembelotan yang dilakukan oleh siapa saja di koalisinya bisa melonggarkan cengkramannya pada parlemen. Sehingga ia mungkin perlu terlibat dalam melakukan pertukaran antara meningkatkan kabinetnya dan mempertahankan loyalitas mitra koalisi," kata NTU. [mel]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya