Berita

saleh daulay/net

Politik

Simpang Siur Pernyataan Pemerintah Perlambat Penanganan Tolikara

SENIN, 20 JULI 2015 | 16:07 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Pemerintahan Jokowi-JK adalah pemerintahan yang simpang siur karena kerap memberikan pernyataan yang saling bertabrakan. Ujungnya, kesimpangsiuran ini membuat masyarakat mendapatkan informasi yang serba tidak pasti.

Begitu kata Ketua Komisi VIII Saleh Partaonan Daulay menanggapi insiden pelarangan Salat Idul Fitri yang berujung pembakaran tempat ibadah di Tolikara, Papua.

"Yang paling baru adalah kesimpangsiuaran masalah tragedi Tolikara. Pemerintah saling membantah. Kesimpangsiuran seperti ini bisa menyebabkan kebingungan dan ketidakpastian informasi. Ini terlihat secara jelas dalam penjelasan Wapres Jusuf Kalla (JK) dan Menag Lukman Hakim terkait adanya Perda yang melarang rumah ibadah Islam memakai pengeras suara di Tolikara," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi sesaat lalu (Senin, 20/7).


Dia pun mencontohkan pernyataan wapres yang menegaskan kerusuhan terjadi karena pengeras suara mesjid. Meski kemudian JK meralat karena setelah banyak yang mengecam. JK meluruskan pernyataannya dengan mengatakan bahwa di sana memang ada Perda yang melarang pemakaian pengeras suara. Namun ternyata pernyataan JK itu langsung dibantah oleh Menteri Agama.

"Menurut Menteri Agama, tidak benar bahwa di sana ada Perda seperti itu. Walaupun Menag sendiri mengakui adanya wacana ke arah pembuatan Perda tersebut," tambah mantan ketua umum PP Pemuda Muhammadiyah itu.

Menurut Saleh, perbedaan pernyataan telah menunjukkan bahwa tidak ada informasi valid yang diterima pemerintah pusat. Jika benar demikian, maka dikhawatirkan akan berpengaruh dalam proses penanganan dan pengusutan kasus tersebut. Bisa jadi, dengan perbedaan informasi ini membuat masyarakat kesulitan untuk memahami yang sesungguhnya terjadi.

"Sebagai pembantu presiden dan wapres, Menag semestinya secara pro aktif memberikan informasi yang benar kepada atasannya. Jangan sampai, informasi pihak lain yang tidak otoritatif dijadikan rujukan. Tidak sepantasnya, wapres salah dalam memberikan pernyataan," tandas wasekjen DPP PAN itu. [ian]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

UPDATE

JK Menjelma Imam Besar Bagi Kelompok di Luar Kekuasaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:17

KPK Benarkan Panggil Pengusaha Rokok Haji Her, Tapi Mangkir dari Pemeriksaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:02

Komisi X DPR Tekankan Kesejahteraan Guru dalam Revisi RUU Sisdiknas

Rabu, 08 April 2026 | 10:00

Iran Sebut Trump Setuju Penuhi 10 Syarat Gencatan Senjata

Rabu, 08 April 2026 | 09:56

IHSG Balik ke Level 7.000-an, Rupiah Menguat Usai Tersungkur ke Rekor Terendah

Rabu, 08 April 2026 | 09:54

Akselerasi Penyehatan, Adhi Karya Lakukan "Bersih-Bersih" Neraca

Rabu, 08 April 2026 | 09:40

Manuver JK Tak Perlu Dikhawatirkan

Rabu, 08 April 2026 | 09:33

Imparsial: Sudah Mendesak Dilakukan Revisi UU Peradilan Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:32

Berkas Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Dilimpahkan ke Oditurat Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:21

KPK Soroti Dugaan Aliran Fasilitas ke Faisal Assegaf

Rabu, 08 April 2026 | 09:04

Selengkapnya