Berita

Politik

Nasdem: Wajar dan Manusiawi Ahok Marah di WDP BPK

SABTU, 11 JULI 2015 | 04:48 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

RMOL. Wajar dan manusiawi jika Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama merespon keras opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) dari Badan Pemerikasa Keuangan (BPK).

Begitu kata anggota Komisi XI Ahmad Sahroni dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi sesaat lalu (Jumat, 10/7).

"Saya kira sebagai manusia, pak Ahok berlaku emosional hal yang wajar. Apalagi sebagai gubernur DKI yang sedang giat-giatnya menata dan mengelola tata ruang kota serta transportasi serta membangun perekonomian dalam mewujudkan visi dari Jakarta Barunya," kata politisi Partai Nasdem ini.


Namun demikian, Sahroni juga menilai kadar emosional Ahok juga harus bisa diletakkan dalam posisi yang tidak menimbulkan pro-kontra di tengah publik dalam melihat persoalan tersebut.

"Pak Ahok juga tidak bisa serta-merta menilai atau menjustifikasi apa yang dilakukan BPK adalah kesalahan audit, janganlah semua ucapannya langsung dijadikan santapan media, perlu dikontrol mana yang perlu, mana yang tidak perlu disampaikan," ujarnya.    

Sahroni berharap Ahok dapat melihat hasil pemeriksaaan BPK tersebut secara lebih proporsional. Dia menyarankan opini WDP saat ini sebaiknya dijadikan salah satu bahan perbaikan dalam proses perjalanan institusinya. Dengan demikian akan lebih tepat jika Ahok melakukan koordinasi dengan jajarannya untuk mempelajari kelebihan serta kekurangan dari laporan tersebut, demi pembangunan ke depan.

"Apapun hasil dan penilaian dari LHP tersebut, sebaiknya diambil sisi positifnya agar bisa memotivasi dalam pelaporan keuangan pemerintah provinsi DKI selanjutnya lebih baik lagi secara pelaporan," tambahnya.

Apa yang disarankan oleh legislator asal dapil Jakarta III ini dinilai lebih tepat ketimbang berpolemik di media massa. Pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK terhadap laporan keuangan Pemprov DKI 2014 itu merupakan pengauditan secara professional.

"Kan BPK ini tidak hanya mengaudit keuangan daerah saja, keuangan negara saja dia (BPK) yang audit. Artinya BPK tidaklah mungkin membedakan prosedur kerjanya," ujarnya.

Namun Sahroni memberikan apresiasi dan sepakat atas keinginan Ahok agar ada transparasi dalam pelaporan serta pengauditan keuangan tersebut.

"Jika pak Ahok menginginkan hal tersebut, saya setuju harus dibuka ruang seluas-luasnya dalam proses pengauditan dan pelaporan keuangan yang telah disepakati oleh kedua pihak antara BPK dan pemerintah daerah atau provinsi. Agar publik mengetahui hasil dari masing-masing lembaga tersebut," tegasnya. [ian]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya