Berita

PT Pertamina (Persero)/net

Bisnis

Pertamina Cari Dana Pinjaman Buat Garap Tiga Proyek PLTP

Porsi Utang Masih Seimbang 33,77 Persen dari Aset 650 Triliun
SELASA, 07 JULI 2015 | 10:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

PT Pertamina (Persero) menyiapkan tiga proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) untuk mencapai target pasokan 505 megawatt (MW) listrik.

Perusahaan minyak dan gas pelat merah ini akan mengembangkan PLTP Karaha di Jawa Barat, PLTP Ulubelu 3 dan 4 di Lampung, serta PLTP Lumut Balai 1 dan 2 di Sumatera Selatan, setelah PLTP Kamojang. Rencananya, Pertamina akan meminjam dana tambahan untuk pembiayaan proyek-proyek dan ekspansi bisnis tersebut.

Diungkapkan Direktur Utama PT Pertamina Dwi Soetjipto, PLTP Karaha akan menghasilkan pasokan listrik sebesar 1x30 MW, sedang PLTP Ulubelu 3 dan 4 menghasilkan 2x55 MW, serta PLTP Lumut Balai 1 dan 2 menghasilkan 2x55 MW.


"Pengembangan energi panas bumi adalah salah satu prioritas perusahaan di masa depan untuk mewujudkan kedaulatan energi. Ketiga PLTP yang dikembangkan saat ini mampu menghasilkan tambahan pasokan listrik 505 MW di 2019," kata Dwi.

Selain tiga proyek tersebut, Pertamina, kata Dwi, juga sedang membangun proyek PLTP Lahendong 5 dan 6 dengan kapasitas 2x20 MW dan pembangkit skala kecil Lahendong berkapasitas 2x5 MW di Sulawesi Utara.

Pembangunan juga dilakukan pada PLTP Sibayak berkapasitas 1x5 MW di Sumatera Utara, PLTP Hululais 1 dan 2 berkapasitas 2x55 MW di Bengkulu dan PLTP Sungai Penuh 1 berkapasitas 1x55 MW di Jambi.

"Proyek-proyek tersebut, akan mulai beroperasi komersial secara bertahap, mulai 2015 hingga 2019," tegas Dwi.

Untuk pembiayaan proyek-proyek dan ekspansi bisnis tersebut, Pertamina membutuhkan tambahan dana yang akan didapatkan dari penambahan utang perseroan. Namun Dwi belum mau merinci besaran utang yang akan ditambah Pertamina dalam waktu dekat.

Ia mengatakan, total aset Pertamina saat ini mencapai 50,3 miliar dolar Amerika, atau sekitar Rp 650 triliun. Sedangkan nilai utang mencapai 16,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 215 trilun. Perincian dari utang tersebut adalah utang jangka pendek 4,9 miliar dolar AS (Rp 63,7 miliar), utang jangka panjang sebesar 3 miliar dolar AS, setara Rp 39 triliun dan utang melalui penerbitan obligasi mencapai 8,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 107 triliun.

"Total utang kami 16,6 miliar dolar AS, debt equity ratio kami sebesar 33,77 persen. Ini masih seimbang, dan baik untuk perkembangan bisnis kami," kata Dwi.

Selain pengembangan PLTP, Pertamina akan menambah kapasitas fasilitas pengelolahan minyak mentah (kilang), sedangkan di sisi hulu akan meningkatkan cadangan migas.

"50 persen bahan bakar minyak kita impor. Oleh karena itu, kami dorong tambahan kapasitas. Ini butuh investasi besar, posisi produksi Pertamina 23 persen dari produksi nasional. Padahal, negara lain di atas 50 persen. Pertamina akan meningkatkan perannya di up stream," jelasnya.

Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan, tambahan modal melalui pinjaman memang dibutuhkan perseroan untuk melanjutkan ekspansi bisnis.

Selain itu, Pertamina juga akan meneruskan program efisiensi menyusul masih rendahnya harga minyak dunia.

"Hingga akhir Mei 2015, Pertamina telah menghemat 172 juta dolar Amerika atau sekitar Rp 2,2 triliun melalui pelaksanaan breakthrough project yang dijalankan perusahaan tahun ini. Hasil efisiensi ini bisa disisihkan untuk biaya lain," kata Wianda kepada kepada Rakyat Merdeka.

Untuk itu, upaya-upaya efisiensi kata Wianda, menjadi penting untuk terus-menerus dilakukan. "Kami optimistis bisa melakukan efisiensi hingga akhir tahun sehingga bisa meningkatkan kapasitas bisnis di segala lini ke depannya, baik di sektor minyak maupun gas," tutup Wianda. ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Pelindo Dukung Konsolidasi Logistik BUMN Perkuat Integrasi Rantai Pasok Nasional

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:16

Indonesia Harus Tegas Tolak LGBT!

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:08

Catatan HUT ke-80 Polri

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:40

Bobby Nasution Pulangkan Kontingen Pesparawi Sumut dari Manokwari dengan Biaya Talangan

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:20

Ekodiplomasi di antara Geopolitik dan Kedaulatan Konservasi Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:01

Danantara Sedang Membersihkan Warisan Lama BUMN

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Hibah KNPI Kabupaten Bogor Menuai Polemik di Tengah Konflik Internal

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Ketua MPR Bicara Islam Toleran dan Persatuan saat Bertemu Grand Mufti Uzbekistan

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:55

Papua Harus Dibangun Tanpa Kehilangan Manusianya

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:45

DPR Minta Transparansi Rencana Pengadaan Rudal BrahMos

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:44

Selengkapnya