Berita

Bisnis

Pemerintah Tak Perlu Alergi dengan Bank Asing, Lihat Singapura

KAMIS, 25 JUNI 2015 | 15:22 WIB | LAPORAN:

Krisis 1998, aset bank dibawa kabur oleh pengelola bank karena bobroknya bank milik pemerintah (termasuk yang sekarang menjadi Bank Mandiri). Saat itu, bank asing justru selamat dari krisis.

"Persamaan perbankan dan day care adalah jasa penitipan. Orang tua tidak akan menitipkan anaknya kepada maling anak," kata Presiden Direktur Center for Banking Crisis, Achmad Deni Daruri di Jakarta, Kamis (25/6)

Mengutip perkataan Mahathir Mohammad,  ulas Achmad, orang Melayu memang mudah lupa. Ia berpendapat, saat ini di Indonesia hanya bank asing yang memiliki kemampuan meningkatkan modal. Sementara pemerintah tidak memiliki kemauan untuk meningkatkan permodalan bank-bank milik pemerintah sebab takut dilusi.


"Jika pemerintah menyadari masalah ini maka pemerintah tidak perlu alergi terhadap bank asing. Contoh yang paling gampang adalah Singapura," sebutnya.

Untuk diketahui, Singapura membuka masuknya bank asing tanpa batas kepemilikan karena diinterpolasikan untuk memberikan jasa kepuasan bagi masuknya human capital kelas dunia. Ini berarti, lanjut dia, rencana Himbara untuk melindungi bank pemerintah dengan mematok kepemilikan asing hanya sebesar 40 persen adalah langkah bunuh diri untuk membonsai human capital di Indonesia.

"Himbara jelas berpikiran sangat sempit," tegasnya.

Bukan hanya itu. Dia mencermati bank-bank asing dari negara maju justru menghidupkan sistem pembayaran di Singapura melalui pengumpulan tabungan di negara asal mereka (bukan di Singapura). Namun begitu, mereka menggelontorkan kredit kepada sektor-sektor ekonomi strategis di Singapura seperti sektor bioteknologi serta sektor petrokima yang sangat sarat modal.

Pemikiran proteksi bagi bank milik pemerintah yang ada di Indonesia semakin membuktikan bahwa bank-bank tersebut memiliki komisaris, direksi dan manajemen yang secara relatif human capital-nya lebih rendah ketimbang eksekutif yang sama yang ada di bank milik pemerintah Singapura.

Dengan mencontoh Singapura, menurut Achmad, jika pemerintah Indonesia ingin memperbaiki kualitas human capital di Indonesia termasuk di sektor perbankannya, maka tak ada pilihan bahwa kehadiran bank-bank asing dengan kepemilikan modal 100 persen harus disambut dengan baik.[wid]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Pelindo Dukung Konsolidasi Logistik BUMN Perkuat Integrasi Rantai Pasok Nasional

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:16

Indonesia Harus Tegas Tolak LGBT!

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:08

Catatan HUT ke-80 Polri

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:40

Bobby Nasution Pulangkan Kontingen Pesparawi Sumut dari Manokwari dengan Biaya Talangan

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:20

Ekodiplomasi di antara Geopolitik dan Kedaulatan Konservasi Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:01

Danantara Sedang Membersihkan Warisan Lama BUMN

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Hibah KNPI Kabupaten Bogor Menuai Polemik di Tengah Konflik Internal

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Ketua MPR Bicara Islam Toleran dan Persatuan saat Bertemu Grand Mufti Uzbekistan

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:55

Papua Harus Dibangun Tanpa Kehilangan Manusianya

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:45

DPR Minta Transparansi Rencana Pengadaan Rudal BrahMos

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:44

Selengkapnya