Berita

burhanuddin abdullah/net

Ekonomi Indonesia Masuk Tahap Mengkhawatirkan!

RABU, 03 JUNI 2015 | 21:54 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Ketua Dewan Pakar Partai Gerindra Burhanuddin Abdullah mengatakan perekonomian Indonesia sudah masuk dalam tahap sangat mengkhawatirkan.

"Perekonomian kita sedang menghadapi kelesuan dan berbagai tantangan yang tidak ringan," kata Burhanuddin Abdullah seperti disebarluaskan akun twitter milik Partai Gerindra, @Gerindra.

Kelesuan permintaan luar dan dalam negeri serta langkanya investasi membuat pertumbuhan ekonomi kita pada kuartai 1 2015 hanya 4,7 persen, masih jauh untuk menggapai target yang tercantum dalam APBN-P sebesar 5,7 persen sepanjang tahun ini.


Kelesuan ini, kata Burhanuddin, berakibat pada rendahnya penyerapan tenaga kerja dan bertambahnya pengangguran terbuka. Paling tidak, ada 1,5 juta tambahan angkatan kerja baru yang tidak bisa terserap oleh perekonomian kita pada tahun ini.

"Transaksi berjalan (current account) kita kembali mengalami defisit. Tak hanya itu, neraca perdagangan pun mengalami defisit, sesuatu yang dalam sejarah perjalanan ekonomi kita tak pernah terjadi," kata Burhanuddin, mantan Gubernur Bank Indonesia.

Deficit transaksi berjalan akibat pertumbuhan ekonomi dunia yang mengalami perlambatan, menjadi pemicu kemerosotan nilai rupiah. Bahkan, rupiah sempat melampaui angka Rp 13.200 per dolar AS-nya.

Kemerosotan nilai rupiah ini, kata Burhanuddin, berimplikasi luas bagi perekonomian kita, salah satunya beban pembayaran utang menjadi meningkat.

Masalah lainnya, kata Burhanuddin, tekanan inflasi juga mengalami peningkatan. Biaya impor bahan baku industri dan barang modal naik sekitar 30%. Akibatnya, confidence pelaku bisnis berkurang dan tanda-tanda pesimisme semakin jelas.

Selain itu non-performing loan atau kredit macet meningkat, penjualan barang modal dan consumer durables seperti truk, bus, mobil, motor, kulkas, dan tv, dan bahkan barang konsumsi juga merosot.

"Situasi ekonomi dalam negeri yang mencemaskan ini menjadi semakin tidak menentu disebabkan adanya rencana normalisasi kebijakan The Fed yang akan menaikkan suku bunga," demikian Burhanuddin.[dem]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Produk Impor Masuk Indonesia Wajib Sehat dan Halal

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:14

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Jemaah Haji Aceh Bisa Akses Ruang VIP Bandara

Selasa, 05 Mei 2026 | 01:28

Ashari Menghilang, Belum Ditangkap Polisi

Selasa, 05 Mei 2026 | 01:16

Ambulans Angkut Jenazah Hantam Truk, Dua Orang Tewas

Selasa, 05 Mei 2026 | 01:00

BPJPH dan Barantin Perkuat Pengawasan Pakan Impor Berunsur Porcine

Selasa, 05 Mei 2026 | 00:33

Purbaya Siapkan Insentif Mobil dan Motor Listrik

Selasa, 05 Mei 2026 | 00:24

Rumah di Grogol Petamburan Dilalap Api

Selasa, 05 Mei 2026 | 00:01

Penyelundupan 2,1 Kg Ganja dari Papua Nugini Digagalkan

Senin, 04 Mei 2026 | 23:35

Tiga Jam Operasional KRL Rangkasbitung Lumpuh

Senin, 04 Mei 2026 | 23:20

Selengkapnya