Berita

ilustrasi/net

Publika

Pesantren; Ragam Pendidikan yang Dipandang Sebelah Mata

SELASA, 02 JUNI 2015 | 07:17 WIB

PELUNCURAN "Gerakan Nasional Ayo Mondok" merupakan aksi solutif di tengah polemik sistem pendidikan Indonesia. Acara tersebut digelar pada hari Senin 01 Juni 2015 di kantor Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU). Said Aqil Siradj selaku Ketua Umum PBNU menegaskan bahwa gerakan ini adalah sebagai bentuk pengembalian kepada nilai-nilai akhlaq dan pendalaman ilmu agama. Pesantren mampu membentuk manusia moderat yang mampu berfikir tentang apapun, baik aspek agama, sosial, kultur dan budaya.

Pendidikan pesantren memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh sistem pendidikan pada umumnya. Setidaknya ada dua hal yang membedakannya. Pertama, tujuan mondoktidak semata-mata agar mahir dalam aspek kognitif saja, melainkan agar mendapat ilmu yang berkah. Keberkahan inilah yang menjadi ciri utama etos keilmuan pesantren. Artinya, mencari ilmu semata-mata mengharap ridha Allah SWT, orientasinya adalah pengembangan kualitas spiritual diri.

Mahir dalam keilmuan memang sangat dihargai, tetapi akan sia-sia jika niat dan motivasinya duniawi semata. Hal ini bertolak belakang dengan tujuan sekolah-sekolah pada umumnya yang berorientasi untuk memperolehpekerjaanyang layak dan mapan. Penekanan dimensi olah batin merupakan aspek krusial saat mengaji. Kuatnya praktik tasawwuf mewarnai sistem etika pesantren.


Hal kedua yang membedakan sistem pesantren dengan sekolah pada umumnya adalah otentisitas keilmuan. Yakni, dalam mengkaji suatu bidang keilmuan harus nyambung sanadnya. Seorang pengajar di pesantren dituntut untuk memiliki silsilah guru-guru yang mengajarinya hingga runtut sampai ke pengarang kitab yang hendak dikaji. Dengan metode seperti ini, para santri memperoleh "ijazah" secara langsung dari sang pengarang kitab.

Berbeda dengan fenomena pendidikan formal yang cenderung praktis dan normatif. Yakni terlalu menekankan kepada penilaian secara prosedural dan baku, sehingga tak jarang melahirkan peserta didik yang tuna etika dan lebih percaya untuk berguru kepada mbah google.

Penekanan olah batin dan akhlaq tidak lantas mengesampingkan aspek kognitif. Ada tradisi Musyawarahatau Bahtsul Masaail, yakni forum diskusi yang melatih para santri untuk riset kepustakaan, Menelusuri kitab-kitab kuning tanpa harakat (gundul). Diskusinya membahas hal-hal aktual dalam perspektif fiqih. Terkadang, meskipun merujuk pada kitab yang sama tetapi menghasilkan pandangan yang berbeda, apalagi jika rujukannya berbeda. Ini lazim terjadi karena berbicara fiqih tentu membicarakan keragaman hukum yang disebabkan oleh sosio-historis yang beragam.

Tujuan "Gerakan Nasional Ayo Mondok" ingin menegaskan bahwa sebenarnya dengan pendidikan pesantren, Indonesia memiliki suatu sistem pendidikan yang mapan, hanya saja seolah-olah dipandang sebelah mata dan ketinggalan zaman. Padahal jika kita telusuri lebih dalam lagi, maka kita akan menemukan kekayaan metodologi dalam mengkaji suatu bidang keilmuan. [***]

Muflih Hidayat
Anggota Himpunan Alumni Pondok Pesantren Mambaus Sholihin dan Aktivis HMI Cabang Ciputat.



Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Langkah Polri Bongkar Kasus Dugaan Korupsi Kejagung Tuai Apresiasi

Kamis, 09 Juli 2026 | 03:59

UPDATE

Matador Pulangkan Belgia di Menit Akhir

Sabtu, 11 Juli 2026 | 04:14

Pengadaan Batu Bara Belum Tentu Penyebab Blackout Sumatera

Sabtu, 11 Juli 2026 | 04:05

Ijazah Asli Jokowi Dipastikan Sama seperti Unggahan Dian Sandi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:45

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Jampidsus Febrie Resmi Mundur

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:23

Antara VAR dan Tuduhan Argentina Anak Emas FIFA

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:02

Pemerintah Dukung Kortastipidkor Usut Tuntas Perkara Korupsi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:35

Pernyataan Febrie Dinilai Upaya Kendalikan Narasi di Tengah Deretan Fakta

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:33

Demo Copot Jampidsus Febrie

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:24

Akademisi University Swedia Teliti Penanggulangan Bencana PMI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:11

Selengkapnya