Fakta yang diungkap pemerhati kebijakan energi nasional Yusri Usman dalam diskusi Indonesia Lawyers Club kemarin malam jadi bahan perbincangan.
Dalam diskusi yang mengangkat tema "SBY Vs Sudirman Said: Apa Dosa Petral?", Yusri dengan lantang mengungkap 'gratifikasi' yang diterima Menteri ESDM Sudirman Said dari Petral.
Sudirman Said, menurut Yusri, naik jet pribadi dibiayai Petral. Kejadiannya beberapa hari sebelum Sudirman bersama Menteri BUMN Rini Sumarno dan petinggi Pertamina mengumumkan pembubaran Petral.
Pada tanggal 8 Mei 2015, kata Yusri, Sudirman terbang ke Singapura untuk bertemu petinggi Petral. Dia tidak datang sendirian tapi bersama Faisal Basri selaku Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi, Direktur SDM Pertamina Dwi Wahyu Daryoto, dan Dirut Integrated Supply Chain (ISC) Daniel Purba.
Beberapa jam sebelum bertemu petinggi Petral, di hari berikutnya, Sudirman kembali ke Tanah Air. Jadi hanya Faisal Basri, Dwi Wahyu dan Daniel Purba yang bertemu petinggi Petral. Pertemuan sendiri digelar di kantor Pertamina Energy Services Pte Ltd (PES), yang juga anak perusahaan Pertamina.
"Ternyata Sudirman Said tidak ke Petral, malah naik private jet ke Medan. Dan itu (biayanya) ditagihkan ke Petral," kata Yusri.
"Naik Private jet tanggal 9 Maret mengejar acara di Lhoksemawe. Itu fakta," sambung Yusri sambil mengangkat-ngangkat dokumen.
"Gratifikasi bukan tuh," celetuk seorang di forum.
"Itu urusan penegak hukum, silahkan. Tapi ini ada buktinya," timpal Yusri.
Setelah acara, dari data yang dihimpun redaksi, Yusri menjelaskan lebih rinci private jet sewaan yang dinikmati Sudirman Said. Dikatakan dia, pesawat pribadi yang digunakan Sudirman Said adalah pesawat khusus Gulfstream G-550, dicarter dari Singapura-Medan-Singapura. Dan biaya carter sebesar 35.750 dolar AS (dengan kurs Rp 13.200 menjadi setara Rp 471.900.000) ditagihkan ke Petral Singapura.
Sebelum pertemuan dengan petinggi Petral digelar, Sudirman Said terbang ke Medan untuk mendampingi Presiden Jokowi 'blusukan' ke Lhoksemawe, Aceh. Jet carteran diparkir di Bandara Kualanamu. Setelah acara di Lhoksemawe selesai, Sudirman pun kembali ke Singapura dengan menggunakan jet tersebut.
Yusri mengaku memperoleh kopian dari Pelita Air Service kepada PES SIngapura dengan nota pengantar nomor: NP/GPRS/PA/2015 tertanggal 8 April 2015.
Yusri merasa aneh dengan 'kenikmatan' yang diterima Sudirman Said itu. Di saat pemerintah giat mengkampanyekan efisiensi sehingga mafia harus 'dihajar', tapi Sudirman malah memanfaatkan Petral untuk menyewakannya jet pribadi.
"Dimana efisiensinya?" keluh dia.
[dem]