Berita

Madrasah Tsnawiyah, Sekolah Favorit Baru

SELASA, 26 MEI 2015 | 21:13 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Ada yang berbeda dengan suasana penerimaan siswa-siswi baru tahun ajaran 2015/2016. Terutama untuk lulusan Sekolah Dasar yang akan melanjutkan ke tingkat lanjutan pertama di DKI Jakarta dan sekitarnya. Jauh hari sebelum pengumuman kelulusan, Madrasah Tsanawiyah sudah membludak pendaftar.

Tren baru ini terlihat di beberapa Madrasah Tsnawiyah Negeri. Sekolah dengan kurikulum yang menggabungkan antara ajaran agama Islam dan pengetahuan umum ini, mulai mendapat Respon tinggi bagi orangtua yang anaknya lulus SD tahun ini.

Bahkan, di beberapa tsanawiyah, jumlah pendaftar bisa lima kali lipat dari kuota bangku yang tersedia. Beberapa orangtua siswa yang ditemui mengungkapkan alasannya. Selain murah (gratis), Tsanawiyah Negeri lebih banyak mengajarkan pelajaran agama.


Pendaftaran MtsN di Jakarta, berbeda dengan penerimaan di sekolah-sekolah negeri. Bahkan jauh-jauh hari sebelum UN, sudah ada yang membuka pendaftaran. Perbedaannya, seleksi penerimaan siswa didik baru ini, tidak menggunakan Nilai UN, tetapi dengan tes masuk biasa.

Hadirnya UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjadikan posisi madrasah semakin jelas, sekaligus membuka lebar ruang gerak madrasah untuk berkompetisi secara sehat dengan sekolah umum, serta responsif terhadap berbagai perubahan dan tantangan zaman.

Dalam realeasenya, Menteri Agama Lukman Hakim Syaefuddin, mengatakan bahwa madrasah adalah 100 persen sekolah yang bercirikan ke-Islaman, terdiri dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) sama dengan SD, Madrasah Tsanawiyah (MTs) sama dengan SMP dan, begitu juga Madrasah Aliyah (MA) sama dengan SMA. Transformasi madrasah ke sistem pendidikan nasional harus diimbangi komitmen dengan memelihara ciri khas ke-islaman.

Antusiasme masyarakat terhadap sekolah ini terlihat ketika mulai dibukanya pendaftaran calon didik baru, di lembaga-lembaga pendidikan yang bercirikan Islam itu. Setiap tahun, animo masyarakat semakin meningkat. Jumlah peminatnya rata-rata 800-1000 orang dengan daya penampungan sekitar 200 siswa didik saja.

Sebagai contoh Mts N 27 Joglo, Jakarta Barat, di sekolah ini membuka pendaftaran siswa baru selama satu bulan penuh, yaitu mulai 1-30 April 2015.

Kontributor Kantor Berita Politik RMOL, Anggie D. Widowati, melaporkan jumlah pendaftar lebih dari 800 siswa yang berasal kawasan sekitar. Karena siswa belum lulus, bahkan belum UN, siswa hanya diwajibkan menyerahkan fotokopi nilai rapot selama kelas lima dan kelas enam semester ganjil. Selain itu siswa juga membawa surat keterangan dari sekolah asal bahwa siswa tersebut benar-benar terdaftar sebagai murid di sana.

Setelah pendaftaran ditutup, pihak panitia akan melakukan seleksi berkas. Menurut kepala sekolah MTS N 27 Drs Djahidin, M.pd para pendaftar akan diseleksi ketat, dengan standar nilai yang ditentukan. Seleksi berkas ini, menurut penggiat NU ini, hanya lolos sekitar 500 anak, yang kemudian akan melangkah menunju jenjang tes betikutnya, yaitu tes Baca tulis Al Quran. Bila peserta didik lolos tes baca tulis Al Quran, mereka akan memasuki tahap berikutnya yaitu tes kemampuan umum, berupa pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, IPA dan Bahasa Inggris.

Menurut Djahidin, peminat MtsN 27 bukan hanya dari kalangan siswa Mi, tetapi malah lebih banyak dari SD Negeri. Mts sekarang juga seperti SMP umum lainnya, yaitu gratis, alias tidak dipungut bayaran. Dibiayai oleh APBN.  "Mungkin itu yang membuat masyarakat semakin meminati sekolah ini."

Sekolah yang memiliki visi Religius, Berbudaya , Cerdas dan Terampil ini, tidak menggunakan sistem rayon dalam penerimaan calon siswa.  Dari sekolah manapun di Indonesia tidak ada batasan, yang penting usianya tidak lebih dari 18 tahun. "Biarpun dari Kalimantan, Bali, Papua, silakan saja mendaftar," kata Djahidin.

Menurut seorang ibu, jauh-jauh hari dia sudah mengincar sekolah ini karena banyak nilai-nilai agama yang diajarkan di sini.

"Anak-anak remaja sekarang semakin rusak moralnya, dengan bekal agama yang cukup Insya Allah mereka akan selalu menemukan jalan yang benar," kata pendaftar bernama Dewi tersebut.

"Kalau saya karena gratis, sekolah Islam swasta mahal, dan saya senang kalau anak saya diterima disini, biar semakin pandai mengaji," kata Nisa, seorang ibu lain yang mendaftarkan anaknya.

Memang itu adalah salah satu dari visi dari sekolah ini, yaitu membentuk manusia cerdas, namun tetap berpegang teguh pada agama. Diharapkan mereka ketika berada di masyarakat sudah terampil dalam sikap beragama.

"Misalnya kalau ada orang meninggal, lulusan Mts ini harus bisa merawat jenasah, sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat banyak," kata Djahidin.

Selain pelajaran umum, di sekolah yang memiliki laboratorium IPA ini juga ada bimbingan hafalan Al Quran, praktek sholat berjamaah pun dilakukan setiap hari.

"Sejauh ini belum ada kasus narkoba atau miras yang terjadi pada siswa Mts yang berada di perbatasan Jakarta Barat dan Kodya Tangerang ini," ujar Djahidin tegas. [dem]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya