Berita

ilustrasi/net

Mengapa Kader PKS Begitu Kritis pada Jokowi

SENIN, 25 MEI 2015 | 10:44 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

. Untuk menganalisa mengapa pendukung-pendukung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) begitu kritis kepada Presiden Joko Widodo, harus kembali melihat situasi politik dua sampai tiga tahun lalu, menjelang Pemilu Legislatif 2014.

Saat itu, gencar diberitakan, PKS manargetkan menjadi tiga besar di bawah PDIP dan Gokar.

"Karena  Pemilu 2009 PKS sudah nomor empat," kata  Ketua Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Rustam Ibrahim, melalui akun twitter-nya, @RustamIbrahim, beberapa saat lalu (Senin, 25/5).


Saat itu, ungkap Rustam, PKS juga sangat berkeinginan menguasai  DKI Jakarta dalam Pileg 2014. PKS nomor satu tahun 2004 dan nomor dua tahun 2009. Tapi siapa yang pernah memprediksi bahwa dalam Pilkada DKI 2012 muncul fenomena Jokowi-Ahok yang melejit bagai meteor.

Ketika itu, pasangan Jokowi-Ahok langsung mengalahkan pasangan PKS Hidayat Nur Wahid-Didik Rachbini di putaran pertama dan pasangan Fauzi Bowo di putaran kedua. Pasangan PKS-PAN HNW-Didik Rachbini yang memilih mendukung pasangan Fauzi Bowo di putaran kedua pun kembali dikalahkan Jokowi-Ahok di putaran dua.

Walhasil, lanjut Rustam, PKS tidak memperoleh keuntungan politik apapun dari hasil Pilkada DKI 2012 karena bergabung dengan calon yang kalah. Bukan hanya itu, populernya Jokowi sebagai Gubernur DKI dan Capres RI, bawa dampak buruk bagi perolehan suara PKS di DKI Jakarta.

"Jangankan menguasai DKI Jakarta, perolehan suara PKS di DKI Jakarta turun lagi dari posisi kedua ke posisi ketiga," ungkap Rustam.

Tentu saja, lanjut Rustam, penurunan suara PKS di DKI Jakarta juga dipengaruhi perkembangan politik nasional pada waktu itu. Pukulan knock-out yang dialami PKS menjelang Pileg 2014 adalah ditangkapnya Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq oleh KPK. Peristiwa ini telah jadi mimpi buruk PKS dalam Pileg 2014.

"Hasilnya, jangankan nomor tiga, PKS terpuruk dari urutan keempat jadi ketujuh. Jumlah kursi PKS di DPR turun dari 47 jadi hanya 40. Hanya Partai Demokrat dan PKS kursinya turun," kata Rustam.

Dalam Pilpres 2014, PKS memilih bergabung pasangan Prabowo-Hatta Rajasa, dan kembali kalah.

"Sepanjang saya saksikan di medsos, akun-akun pendukung PKS tampaknya paling keras kritik Jokowi. Bahkan Gerinda justru lebih kalem," demikian Rustam. [ysa]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya