Berita

ilustrasi/net

Politik

Daya Serap Bulog Rendah, Pemerintah Perlu Revisi Harga Beli

JUMAT, 22 MEI 2015 | 02:22 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

. Anggota Komisi IV DPR, Fadholi mendesak perlunya melakukan revisi Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk mengatasi terbatasnya kemampuan Bulog menyerap hasil panen petani.

"Kecendrungan petani yang lebih memilih menjual hasil panennya ke pihak swasta disebabkan harga beli Bulog belum memberi keuntungan yang layak. Karena itu, pemerintah perlu mempertimbangkan untuk merevisi kembali HPP yang ditetapkan oleh Inpres Nomor 5 Tahun 2015," kata Fadholi dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Kamis (21/5).

Menurut dia, banyak variable yang harus diselaraskan untuk revisi HPP. Tidak hanya cost produksi, produktivitas lahan dan keuntungan petani juga harus dipertimbangkan.


Fadholi mengatakan, Harga HPP beras dan gabah yang diterapkan bulog mungkin menguntungkan bagi petani yang punya 1 hektar lahan dengan produksi 8-9 ton beras. Tapi, tidak demikian halnya bagi yang hanya mampu memproduksi 5 ton beras.

Dalam resesnya di Semarang kemarin, Fadholi mengakui telah menjumpai sejumlah kelompok tani yang mengeluhkan rendahnya harga beli Bulog di saat panen. Sementara, ongkos produksi yang dikeluarkan petani meningkat. Di sisi lain, adanya wacana impor jelang bulan ramadhan, menurut Fadholi seharusnya tak perlu dikhawatirkan.

"Hampir di banyak tempat di Indonesia saat ini sedang panen, yang terpenting bagaimana pemerintah dapat menyerap hasil panen," paparnya.

Namun, kenyataannya, kenaikan harga beras saat ini tidak sebanding dengan lonjakan peningkatan harga beras di pasar. Dalam kondisi seperti inilah, terang Fadholi, peran penting Bulog untuk menstabilkan harga. Selain itu, ia mengingatkan perlunya peran distribusi Bulog untuk mengantisipasi pihak yang menimbun beras

Fadholi menegaskan Bulog semestinya menerapkan sistem sirkulasi stok yang dapat menjamin kualitas beras tetap baik. Hal ini dimaksudkan agar beras Bulog dapat dikonsumsi masyarakat.

"Yang ada di gudang jangan terlalu lama, maksimal dari hasil dua musim panen. Di saat panen ketiga maka stok dari panen pertama yang dilepas ke pasar," paparnya.

Fadholi juga menekankan perlunya pemerintah untuk melindungi harga petani.

"Bulog membeli hasil panen dengan harga yang tinggi dari petani dan menjualnya dengan harga murah di tingkat konsumen, dengan begitu harga petani terlindungi," tukasnya.[dem]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya