. Isu resufhle kabinet yang mencuat beberapa waktu ini masih menyisakan pertanyaan kriteria menteri apa saja yang layak diganti oleh Presiden Joko Widodo.
Pusat Kajian Trisakti (Pusaka Trisakti) sebagai lembaga think-thank penyokong Jokowi-JK mempunyai penilaian sendiri dengan mengkategorikan menjadi dua tipe menteri. Dalam penilaian Pusaka Trisakti, ada dua tipe menteri yang layak diganti.
Tipe pertama, yang tidak memiliki semangat untuk menerjemahkan ideologis Trisakti-Nawacita ke dalam kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan, seperti soal keberpihakan terhadap pengelolaan sumber daya alam dan keteradilan energi serta peningkatan kesejahteraan rakyat berorientasi pembangunan manusia, bukan hanya pembangunan/kebijakan berpihak korporasi semata .
"Tipe kedua, yang menjadi liabalities (beban) dalam komunikasi politik Jokowi dengan partai pendukung, " kata Direktur Penelitian Pusaka Trisakti, Juliaman Napitu Saragih, beberapa saat lalu (Selasa, 19/5).
Menurut Juliaman, menteri yang masuk dalam catatan dua kategori sekaligus itu Meneg BUMN Rini Soemarno. Ia beralasan bahwa kebijakan Rini Soemarno jauh dari semangat ideologi Trisakti dalam arah kebijakan BUMN-BUMN yang dibawahinya. Ketidakmampuannya mengatur Pertamina dalam persoalan harga BBM yang jauh dari keberpihakan pada kepentingan publik salah satu contohnya. Visi dan misi Rini tentang BUMN yang berbasiskan Trisakti sampai saat ini masih buram.
"Dengan segala catatan abu-abu di masa jadi Menteri Perdagangan dulu, sejak awal Jokowi memang tidak memprioritaskan Rini jadi Meneg BUMN. Coba saja dielaborasi sisi ideologis dan visi-misi Trisakti Rini dalam pengelolaan BUMN, nyambung gak ?" ungkap Juliaman.
Namun, lanjut Juliaman, dengan mempertimbangkan atau mungkin Rini mampu memberi keyakinan bahwa dirinya dapat menjadi asset bagi memperlancar komunikasi politik dengan Megawati maka Jokowi menyetujuinya. Dan seluruh orang tahu, orang paling getol dorong pencapresan Jokowi bukan Rini. Dan tentu saja juga, tanpa restu Megawati, Jokowi tak mungkin menyetujui Rini jadi menteri.
"Walau akhirnya harapan Jokowi itu gagal total karena dari sisi komunikasi politik posisi Rini telah menjadi libalities Jokowi terhadap Mega. Peran Rini yang diharapkan Jokowi menjadi oli malah menjadi batu sandungan Jokowi dengan Mega. Saya pikir ini diluar perhitungan Jokowi tentang ketidakmampuan Rini menjaga hubungan baik dengan Bu Mega. Maklum Jokowi selalu berpikir positif terhadap apapun dan belum tahu banyak orang, "tandasnya.
Alumnus sekolah filsafat Driyarkara ini pun menambahkan, jika ada menteri-menteri Jokowi yang mengklaim paling keringatan dan paling berjasa dalam pencapresan Jokowi dibanding Megawati kemudian menganggap peran Megawati kecil dan berusaha menjauhkan Megawati dengan Jokowi, maka model menteri-menteri seperti ini suatu saat Jokowi susah akan ditinggalkan pula.
"Apapun standar evaluasi para menteri yang dipakai Jokowi, secara ideologis, kinerja dan strategi politik tidak ada alasan bagi Jokowi pertahankan Rini. Saya yakin jika Jokowi hormati Bu Mega dia akan copot Rini, tapi jika Jokowi pertahankan Rini berarti Jokowi-nya saja yang kebangetan. Gitu aja kok repot ngukurnya," demikian Juliaman.
[ysa]