Nilai Tukar Petani (NTP) tanaman hortikultura kembali mengalami penurunan dari 101,34 pada bulan Maret 2015 menjadi 100,30 pada bulan April 2015.
Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih mempertanyakan kinerja pemerintah terutama Kementerian Pertanian sebab NTP hortikultura terus turun sejak Oktober 2014.
"Apakah ini artinya program pemerintah baru belum berjalan dengan baik? Kita tahu pemerintahan baru, menteri baru, butuh waktu. Tapi
sampai kapan? Karena nasib petani semakin di ujung tanduk," kata Henry dalam keterangannya kepada redaksi, Jumat (15/5).
sampai kapan? Karena nasib petani semakin di ujung tanduk," kata Henry dalam keterangannya kepada redaksi, Jumat (15/5).
Menurut dia, dalam kondisi ini pemerintah seharusnya melakukan cara yang efektif seperti peningkatan proses pascapanen sehingga nilai tambah yang diperoleh petani menjadi meningkat.
"Jika produksi hortikultura lancar dan ditampung pasar domestik, sebenarnya tak akan jadi masalah," katanya.
Henry menambahkan hal itu juga harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk melaksanakan program "Desa Berdaulat Benih" bersama petani.
"Mumpung belum dieksekusi, kita punya momentum untuk perbaikan," tukasnya.
Penurunan NTP Hortikultura umumnya disebabkan turunnya beberapa harga komoditas kelompok sayuran, khususnya cabai rawit dan cabai merah.
Menurut data Kementerian Perdagangan RI, harga cabai merah pada awal April sebesar Rp. 24.105 per kilogram, kemudian turun menjadi Rp.
22.994 pada akhir April.
Di sisi lain inflasi pedesaan sebesar 0,21 persen juga menjadi sebab lain. Inflasi khusus di daerah pedesaan ini dipicu oleh kenaikan biaya transportasi dan komunikasi. Kedua biaya ini naik karena imbas kenaikan harga BBM.
Inflasi juga disebabkan oleh kenaikan biaya pembelian input produksi hortikulura untuk musim tanam berikut. Kenainkan biaya produksi dan tambahan modal ini jelas mempengaruhi turunnya NTP hortikultura.
[dem]