Berita

ilustrasi/net

Tommy Soeharto, Jangan Larang Rakyat Bergerak Kritisi Jokowi!

KAMIS, 14 MEI 2015 | 17:58 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Putra bungsu Presiden Soeharto, Tommy Soeharto, diperingatkan untuk tidak melarang mahasiswa, aktivis dan elemen masyarakat turun ke jalan pada 20 Mei nanti.

"Tidak benar melarang orang untuk bergerak. Gerakan 20 Mei tidak bisa dibendung," ujar Sekjen Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Agus Priyanto kepada redaksi sesaat lalu, Kamis (14/5).

Agus menduga seruan agar masyarakat tidak terlibat dalam Gerakan 20 Mei disampaikan karena Tommy ingin memanfaatkan momentum tersebut untuk pencitraan diri.

Bisa juga hal itu didasari motif, Tommy merasa sakit hati karena lewat gerakan tersebut ayahnya dulu dilengserkan.

"Mungkin dia mau 'mencuci' sejarah Gerakan 20 Mei. Itu hak dia. Tapi rakyat tidak bisa melupakan bagaimana kondisi rezim saat itu," imbuh Agus.

Diberitakan sebelumnya, Tommy Soeharto berpesan agar masyarakat tidak ikut-ikut seruan gerakan 20 Mei. Pesan itu disampaikan Tommy lewat akun twitternya, @HutomoMP_9.

"Sebaiknya diam di rumah, ingat keluarga, ingat tanggung jawab," kicau Tommy, Rabu (13/5).

Daripada demo, kata Tommy, lebih baik mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadhan.

"Jangan mau dimanfaatkan untuk turun ke jalan teriak-teriak demi kepentingan oknum-oknum tertentu," kicau Tommy.

Agus mengapresiasi organisasi mahasiswa dan para aktivis yang sudah menyatakan akan menggelar demo besar-besaran pada 20 Mei nanti. Namun dia mengingatkan untuk perlunya mewaspadai agar gerakan tersebut tidak dibajak oleh elit yang haus kekuasaan.

"Pada prinsipnya, LMND bersikap tidak perlu melengserkan Jokowi. Momentum 20 Mei harus digunakan untuk bagaimana mendorong Jokowi kembali ke Trisakti," kata Agus.

"Jokowi harus melakukan evaluasi terutama terkait tim ekonomi yang amburadul. Harus ada perombakan besar-besaran karena potensi krisis saat ini benar-benar nyata. Kalau kita tidak siap, tidak segera menempatkan figur yang paham dan menguasai persoalan makro ekonomi, ini sangat berbahaya," tukasnya.[dem]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya