Presiden Joko Widodo (Jokowi) dinilai telah gagal menjalankan amanat rakyat.
Stabilitas harga, kepastian hukum dan situasi politik yang kondusif merupakan beberapa contoh harapan yang dikehendaki rakyat yang tidak bisa diwujudkan oleh Jokowi-JK.
"Pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan, harga-harga naik, rupiah menurun, sekarang IHSG menurun, ketidakpastian hukum, itulah kenyataan dari output pemerintah," kata politisi PDIP Effendi Simbolon dalam talkshow di TV One, Kamis (7/5) malam.
Menurut Effendi yang berbicara bersama ekonom senior Ichsanuddin Noorsy, target dan program kerja yang dijanjikan dan dilaksanakan pemerintah tidak realistis dan penuh kebohongan.
Contoh terbaru adalah pembangunan pembangkit listrik 35 ribu megawatt dengan dalih untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi nasional di Goa Cemara, Pantai Samas, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Berkaca dari masa SBY yang membangun pembangkit listrik dengan daya tidak lebih besar dari itu dalam dua periode pemerintahan, menurut Effendi, proyek pembangkit listrik bertenaga bayu atau angin yang dijanjikan Jokowi selesai dalam tiga tahun sangat tidak realisitis.
Effendi tak setuju untuk mengatasi berbagai kecarut marutan yang ada saat ini perlu dilakukan reshuffle kabinet. Persoalan utamanya bukan di menteri.
"Solusinya bukan reshuffel, tapi..." kata Effendi dipotong anchor karena waktu talkshow selesai. Effendi yang nampak belum selesai bicara langsung disalami anchor dan sempat disorot kamera langsung memberi senyuman.
Di tengah desakan reshuffle kabinet yang kian menguat belakangan ini, Effendi yang sering melontarkan kritik keras terhadap Jokowi justru rajin menyuarakan agar dilakukan reposisi presiden.
Menurut dia reshuffle kabinet tidak dapat menyelesaikan persoalan negara saat ini sebab menteri hanya sebagai pembantu presiden.
[dem]