Pendidikan budi pekerti sangat mendesak untuk ditanamkan kembali pada dunia pendidikan. Dengan dikembalikankan budi pekerti ke bangku sekolah, tata pergaulan, tata komunikasi dan tata budaya yang dirasakan sudah hilang di dalam masyarakat Indonesia dapat dikembalikan.
Demikian disampaikan Wapemred Harian Kompas, Trias Kuncahyono ketika berbicara dalam Pelatihan Kepemimpinan yang diadakan STIE St. Pignatelli Surakarta di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, Minggu (3/5). Menurut dia, kita semua bertanggung jawab atas masa depan Indonesia yang bermartabat, berbudaya dan sekaligus berakhlak. Mengembalikan pendidikan budi pekerti ke sekolah setidaknya akan menjamin Indonesia dengan masa depan yang lebih baik.
"Tidak adanya budi pekerti dalam tata pergaulan atau tata komunikasi menjadikan para mahasiswa menjadi pemimpin yang tidak professional, haus kekuasaan dan tidak memiliki hati," katanya.
Selain Trias, pelatihan yang digelar selama tiga hari itu menghadirkan, konsultan komunikasi politik AM Putut Prabantoro dan Anggota DPRD Provinsi Banten dari PDIP Ananta Wahana sebagai pembicara.
Trias mengambil contoh sopir angkot yang sama sekali tidak memiliki rasa bersalah dan bahkan tidak peduli meski sudah melanggar hak pemakai jalan lain. Hampir di semua kota, sopir angkot tidak memiliki kepedulian terhadap hak orang lain yang sama-sama menggunakan jalan. Sementara aparat penegak hukum di jalan juga tidak peduli juga terhadap perilaku para sopir angkot itu.
"Itu contoh riil apakah budi pekerti ada dalam masyarakati kita tidak. Mahasiswa yang berperilaku menyontek saat ujian ataupun skripsi juga menunjukkan tipisnya budi pekerti di kalangan mahasiswa. Dan lambat laut sifat yang permisif itu menjadi budaya pada akhirnya akan menghancurkan bangsa Indonesia," tegas penulis buku laris, Jerusalem, yang dicetak ulang 17 kali ini.
Adapun Putut Prabantoro mengatakan para pemimpin bangsa harus menyadari bahwa setidaknya selama 17 tahun, generasi baru Indonesia melihat tokoh bangsa atau pejabat yang berperilaku jauh dari berbudi pekerti. Tontonan televisi seperti konflik horizontal antar pelajar, perebutan kekuasaan, korupsi oleh para pejabat negara, konflik antar penegak hukum adalah tontonan yang biasa dilihat di televisi adalah contoh buruk yang terekam dalam kehidupan mereka.
"Generasi muda Indonesia selalu dihadapkan pada pilihan buruk dengan munculnya diskriminasi agama, diskriminasi suku, diskriminasi ras atau juga diskriminasi dunia kerja dalam kehidupan sehari-hari. Sekalipun mereka dididik dalam warna Bhinneka Tunggal Ika, pada kenyataannya kehidupan sehari-hari mereka menemukan begitu banyak diskriminasi. Sementara di sisi lain, para pemimpin bangsa dalam perilakunya seringkali memunculkan konflik sekalipun hanya dalam tatanan wacana atau di media," ujar Konsultan Komunikasi Politik itu.
Sementara Ananta Wahana, menjelaskan bahwa menjadi pemimpin Indonesia di masa depan dibutuhkan nyali untuk mengubah dunianya menjadi lebih baik. Tokoh seperti Lech Walesa dari Polandia, Soekarno ataupun Joko Widodo adalah orang yang memiliki nyali†untuk mengubah negaranya dengan risiko dan ancaman begitu besar yang berdiri di hadapannya.
"Jangan menjadi pemimpin pengecut yang mampunya menjadikan orang lain tumbal. Ataupun juga yang hanya menggunakan uang ataupun SARA untuk mencapai tujuannya. Harus punya nyali untuk menjadi pemimpin besar di masa depan," ujar Ananta Wahana, yang menyatakan mencalonkan diri sebagai Walikota Tangerang Selatan sekalipun dirinya dari kelompok minoritas.
[dem]