Sapril Akhmady punya mimpi sederhana. Pria dari Makassar, Sulawesi Selatan, ini ingin ke Raja Ampat di Papua Barat dengan menggunakan kapal Pinisi. Tetapi apa daya, sudah sulit menemukan kapal Pinisi, bahkan di tanah kelahirannya.
Padahal, kapal Pinisi digunakan sebagai lambang Makassar. Miniatur kapal Pinisi pun dapat ditemukan dengan mudah.
Dari sinilah, Sapril mendapatkan ide membuat kapal Pinisi.
"Ide itu disampaikan kepada komunitas Makassar lainnya. Gayung bersambut, rencana dibuat, pengumpulan dana dimulai," cerita anggota DPR RI dari Partai Kebangkiran Bangsa (PKB) Nihayatul Wafiroh yang baru-baru ini berkunjung ke tempat pembuatan kapal Pinisi itu di dekat pelabuhan Ford Rotterdam, Makassar.
Nihayatul mengenal Sapril di Hawaii. Keduanya pernah sama-sama menuntut ilmu di University of Hawaii at Manoa (UHM) Amerika Serikat.
"Ada hal menarik dalam usaha mengumpulkan uang ini. Kawan-kawan Makassar melakukan beberapa gerakan, mulai bantingan personal, mengedarkan kotak-kotak sumbangan hingga donasi dari warga. Saat itu hanya bisa mengumpulkan uang Rp 15 juta. Padahal kebutuhan pembuatan kapal Pinisi ini mencapai Rp 2,5 miliar," cerita Nihayatul lagi.
Bantuan terus berdatangan termasuk dari pejabat-pejabat setempat hingga pembuatan Pinisi bisa dimulai. Walau dana yang tersedia masih jauh dari yang dibutuhkan, Sapril dan kawan-kawannya tidak putus asa.
Pembuatan kapal Pinisi sengaja dilakukan di Makassar, bukan di Bulukumba yang menjadi sentral pembuatan Pinisi selama ini. Maksudnya, agar masyarakat bisa dengan mudah mengetahui proses pembuata Pinisi.
Mereka berusaha keras menyelesaikan kapal Pinisi ini pada tanggal 15 Agustus 2015, dan akan didaftarkan ke Unesco sebagai warisan dunia. Selain itu, kapal Pinisi ini juga akan didedikasikan untuk dunia pendidikan. Misalnya, menjadi museum pendidikan dan kebudayaan yang bisa berlayar.
"Dukungan dari semua pihak sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan pembuatan kapal Pinisi ini. Saya pribadi yang berkesempatan mengunjungi tempat pembuatannya sangat terkesan dengan semangat kawan-kawan muda Makassar yang ingin mempertahankan budaya Indonesia ini," demikian Nihayatul.
[dem]