Media, baik itu media massa ataupun media sosial, adalah alat perang paling canggih yang pernah diciptakan manusia. Kecanggihannya mengalahkan kecanggihan senjata paling mutakhir sekalipun yang ada pada masa kini.
Demikian disampaikan Pemimpin Umum Kantor Berita Politik RMOL, Teguh Santosa, saat memberikan sambutan pada Malam Budaya Manusia Bintang 2015, di Balairung Soesilo Soedarman, Kementerian Pariwisata, Jakarta, Rabu malam (29/4).
"Karena dengan menggunakan media, sebuah bangsa dan/atau negara dapat menaklukkan bangsa dan/atau negara lain tanpa menembakkan sebutir peluru pun," ujar Teguh.
Teguh menjelaskan media menyerang sistem pemahaman dan kesadaran individu. Dia mengutip tokoh pejuang hak asasi Amerika Serikat di era 1960an, Malcolm X, yang pada suatu kali berkata: Kalau Anda tidak hati-hati, maka media bisa membuat Anda membenci orang yang tertindas dan di saat bersamaan mencintai orang yang melakukan penindasan.
"Dalam sejarah modern kita menyaksikan begitu banyak contoh dimana bangsa dan/atau negara dihancurkan pertama kali dengan infiltrasi informasi via media. Media jelas punya potensi destruktif, merusak dan menghancurkan," kata Ketua bidang Luar Negeri Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ini.
Tetapi di sisi lain, sambungnya, media juga punya kemampuan konstruktif dan membangun. Indonesia, sebut Teguh, adalah salah satu buktinya.
"Indonesia dibangun oleh kesadaran kebangsaan yang dialirkan lewat tulisan-tulisan kaum intelektual muda pada masanya, di awal abad ke-20. Pengalaman individual di bawah penjahahan dirajut perlahan-lahan, menyatukan
founding fathers kita yang berasal dari begitu banyak suku bangsa dengan begitu banyak bahasa ibunda. Menciptakan satu pengalaman yang sama, pengalaman keindonesiaan," urai pengajar di FISIP Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah ini.
Teguh menegaskan, bahwa paradigma media seperti itulah yang menjadi keyakinan dan kiblat
Kantor Berita Politik RMOL yang tahun ini berusia 10 tahun.
"Tentu kita tidak perlu sama untuk semua hal. Prinsip demokrasi mempersilakan perbedaan tumbuh subur dalam perjalanan sebuah bangsa. Tetapi kita juga perlu menyadari bahwa perbedaan bukanlah tujuan. Memberikan ruang untuk perbedaan-perbedaan adalah cara untuk menyempurnakan kita, menyempurnakan Indonesia," kata Teguh lagi.
"Sementara tujuan kita, seperti yang telah dituliskan
founding fathers kita dan kita semua setujui, adalah menciptakan masyarakat adil dan makmur," demikian Teguh.
Pada penyelenggaraan Malam Budaya Manusia Bintang 2015,
Kantor Berita Politik RMOL memberikan Penghargaan Demokrasi kepada lima tokoh, yakni Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Menko bidang Maritim Indroyono Soesilo, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi, dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Hamdan Zoelva.
[dem]