Kepolisian menggeledah kantor percetakan soal ujian nasional (UN) SMA. Polisi menduga, yang mengunggah atau memasukkan soal UN ke internet memakai Google drive, adalah pelaku tunggal.
Kabareskrim Komjen Budi Waseso menjelaskan, tindakÂlanjut atas laporan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan tengah dilakukan Kepolisian. Jajarannya tengah mengumpulÂkan bukti-bukti terkait kebocÂoran soal UN itu.
"Ada beberapa tempat di Jakarta yang kita curigai, kita cek," ujarnya, kemarin.
Budi menambahkan, polisi curiga yang membocorkan soal UN adalah oknum percetakan. Namun, dia belum mau menyeÂbutkan, identitas pelaku berikut motivasi membocorkan soal ujian ke internet. Menurutnya, pelaku, modus operandi, dan tarÂget yang hendak dicapai pelaku masih dipelajari.
Dia menambahkan, penggeledahan sejumlah lokasi percetakan soal ujian nasional, semata-mata bertujuan mencari alat bukti. Jenderal bintang tiga itu pun enggan buru-buru membenarkan atau membantah informasi yang berkembang terkait penggeledaÂhan di Kantor Perusahaan Negara (PN) Percetakan Negara di Jalan Johar Baru, Jakarta Pusat.
Budi juga belum bersedia meÂnyampaikan, apa saja yang disita dalam penggeledahan itu. "Nanti kalau hasilnya sudah ada, kita beritahukan," sergahnya.
Yang jelas, menurutnya, proyeksi penyidik mengungkap perkara adalah untuk mendukung keberhasilan program ujian nasional Kemendikbud.
Untuk itu, Budi mengaku menginstruksikan tim dari jajaÂran cyber crime untuk meneluÂsuri perkara tersebut. Pelibatan tim cyber Kepolisian ditempuh untuk mengetahui pola pelaku yang memanfaatkan kecanggiÂhan teknologi informasi.
Lewat tim cyber tersebut, kepolisian diharapkan mampu mendapatkan data-data terkait metode pembocoran soal ke inÂternet. Budi memastikan bahwa tim cyber kepolisian memiliki akses untuk meminta sekaligus menutup atau memblokir situs yang diduga dipakai untuk keÂpentingan melawan hukum, termasuk di dalamnya, memboÂcorkan soal ujian nasional.
"Sudah ada upaya-upaya keÂpolisian untuk menangani dan mengantisipasi permasalahan tersebut," tuturnya.
Saat dicari atau di-searching kemarin sore, bocoran soal UN itu memang sudah tidak bisa dibuka. Menurutnya, kejahatan ini diduga tidak dilakukan secara terorganiÂsir. Artinya, besar kemungkinan, pelakunya bekerja seorang diri alias pelaku tunggal.
Identifikasi pelaku tunggal tersebut, diperkuat lewat data daÂlam laporan yang menyebutkan, kebocoran terjadi hanya pada 30 soal ujian. Secara keseluruhan, jumlah soal ujian nasional menÂcapai 11 ribu lebih.
Lagi-lagi, bekas Kapolda Gorontalo ini menolak membeÂberkan soal ujian yang dibocorÂkan melalui jaringan internet. "Masih dipelajari. Dikumpulkan bukti-buktinya."
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Agus Riyanto menandaskan, kepoliÂsian mengapresiasi koordinasi Kemendikbud yang cepat dalam mengawasi pelaksanaan ujian nasional. Pengawasan inilah yang membuat kebocoran soal cepat diantisipasi.
Dia memastikan, kepolisian memiliki komitmen untuk menjalin koordinasi dengan Kemendikbud dan Keminfo dalam mengawal suksesnya pelaksanaan ujian nasional.
Besar harapannya pula, penyelidikan kepolisian memperoleh hasil yang optimal. "Kita tidak mentolerir tindakan-tindakan ilegal yang bertujuan mengacauÂkan pelaksanaan ujian nasional," tandasnya.
Dengan kata lain, siapapun yang diduga melakukan penyÂimpangan, akan ditindak sesuai prosedur.
Kilas Balik
Dibantu Kepolisian Dan Kominfo, Anies Minta Google Blokir Bocoran Soal UN Ada 30 paket soal ujian nasional (UN) SMAdan sederajat yang bocor di internet.
Lantaran itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan melaporkan kebocoran ini ke Mabes Polri.
Dia pun melaporkan kebocoran itu kepada Wakapolri, Kominfo, dan menelepon provider Google untuk memblokir tampiÂlan soal.
Begitu mengetahui ada keboÂcoran, Senin (13/4) sore, Anies langsung melapor ke kepolisian. Laporan yang bersifat segera itu, disampaikan ke Wakapolri Komjen Badrodin Haiti.
Dia pun menghubungi Menkominfo untuk meminta bantuan memblokir tampilan soal yang bocor tersebut. "Melalui koordinasi dengan kepolisian dan Kominfo, kami mengontak pihak Google," ujarnya.
Saat itu, dia mengajukan perÂmintaan untuk memblokir atau menghapus tampilan soal ujian nasional. Permohonan itu dikabÂulkan Google. Baru pada Selasa (14/4), Anies secara resmi meÂlaporkan kebocoran soal ujian tersebut ke Bareskrim Polri.
Dalam laporannya, Kemendikbud melaporkan temuan 30 booklet naskah soal ujian naÂsional. Dokumen bersifat rahaÂsia itu, diunggah pelaku melalui google drive. Dokumen tersebut ditampilkan dalam format PDF.
Anies menduga, pengunggah soal ujian nasional di tempat peÂnyimpanan data (drive) Google itu, adalah oknum perusahaan percetakan di Jakarta.
"Pengunggahan itu adalah perbuatan ilegal. Pelakunya ada di salah satu perusahaan percetaÂkan di Jakarta," katanya.
Dia menekankan, pihaknya sudah mengetahui siapa yang mengunggah dokumen rahaÂsia itu ke internet. Identifikasi penggugah soal ujian nasional tersebut, diketahui lewat akun yang digunakan pelaku.
Anies menambahkan, berÂdasarkan analisis tim cyber Kemendikbud, Kominfo, dan kepolisian, file yang diunggah menunjukkan bahwa pelaku terkait dengan percetakan yang mencetak soal ujian nasional. "Kita ingin pelakunya diproses hukum."
Sebelumnya, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti pada Senin (13/4) mengemukakan, temuan mengenai kebocoran ini berawal dari aduan salah seorang guru FSGI.
Setelah ditelusuri, kebocoran terjadi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Biologi dan Kimia. Masing-masing mata pelajaran bisa diunduh dengan mudah dan gratis.
"Temuan kebocoran soal ini telah dilaporkan oleh salah satu guru sekolah," tuturnya.
Awalnya, pengaduan yang diterima oleh FSGI, tidak langÂsung dipercaya. Tapi saat ujian nasional dilangsungkan, FSGImenemukan kecocokan dengan soal yang telah diunduh. Retno mengaku mencoba melakukan pengunduhan dan berhasil mengakses 25 dari 30 soal ujian nasional dari internet.
Atas hal itu, FSGImenuntut pemerintah bertindak tegas pada pelaku kejahatan ini. Dia juga meminta masyarakat melaporkan kasus ini ke FGSI. Menurutnya, FSGIakan melanjutkan rekoÂmendasi laporan terkait pelaksanaan ujian nasional ke Kemendikbud.
Tidak Juga Bikin Kualitas Pendidikan Tambah BagusRetno Listyarti, Sekjen FSGISekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengaÂtakan, kebocoran soal ujian nasional (UN) merupakan sesuatu yang sangat disayangkan.
Padahal, kata dia, dengan sistem yang baru, UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan siswa. Hal seperti ini pun menuÂrutnya tidak seharusnya terjadi.
"Dengan sistem baru kan UN bukan lagi penentu keluÂlusan, seharusnya tidak ada lagi kejadian yang seperti ini," kata Retno.
Dia pun mengingatkan, agar kejadian tersebut menjadi pengalaman bagi staf pengajar di Indonesia agar UN yang dilaksanakan menjadi standar mutu siswa. "Sehingga, setiap siswa yang lulus dari tingkat sekolah, benar-benar memiliki kualitas," katanya.
Tidak hanya itu, dia juga melihat data-data sebelumnya tidak menunjukkan UN meninÂgkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Padahal, UN sudah digelar selama lebih dari 10 tahun.
Sehingga, menurutnya, UN seharusnya tidak dijadikan penentu siswa laik lulus atau tidak. Sebab, dari data tersebut juga tidak menunjukkan bahwa moral yang dimiliki siswa menjadi lebih baik.
"Nyatanya kualitas muÂrid tidak meningkat. UN itu hanya basa-basi, banyak data yang sudah membuktikanÂnya," ujarnya
Retno memaparkan, kebocÂoran soal UN awalnya diketaÂhui dari laporan seorang guru dan beberapa siswa ke posko pengaduan FSGI. Laporan itu juga menyertai tautan internet.
Selanjutnya, FSGImenelusuri tautan tersebut. Sangat mencengangkan, ketika dirinya mengetahui bahwa soal yang beredar di internet itu sama percis dengan soal yang dikerjakan salah seorang muÂrid ketika dikonfirmasi.
"Soal Bahasa Indonesia dan Kimia sama persis. Itu diakui oleh siswa yang mengerjakan soal-soalnya," tutur Kepala SMANegeri 3 Jakarta ini.
Dia pun berharap, agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bisa mencegah bocornya soal UN terulang pada tahun berikutnya.
Menurutnya, sebuah sistem pengawasan yang ketat, sanÂgat dibutuhkan guna mengawal UN. "Jangan sampai ada cyber crime seperti ini lagi," tuntasnya.
Bukan Pertama Kali Terjadi Sudah SeringAlmuzzammil Yusuf, Anggota Komisi III DPRAnggota Komisi IIIDPRAlmuzzammil Yusuf menilai, bocornya soal ujian menjadi indikasi, UN bukanlah hal yang penting di negeri ini.
Sebab, katanya, dugaan kebocoran soal UN bukan perÂtama kali mencuat. Sehingga, kejadian itu bukanlah hal yang aneh.
Yusuf menuturkan, perisÂtiwa serupa terjadi pada 2014. Dimana 15 orang yang berasal dari lingkungan sekolah dijadiÂkan tersangka.
"Saya sudah menduga akan ada kebocoran lagi, karena pelakunya orang dalam sendiÂri," katanya.
Selain orang dalam setingÂkat guru atau kepala sekolah, menurutnya, perilaku siswa yang curang juga menjadi penentu bocor atau tidaknya soal UN.
Pasalnya, setelah mereka tahu ada soal yang bocor, maka besar kemungkinan soal itu akan diberitahukan kepada rekannya yang lain dan meÂnyebar kemana-mana.
"Sayangnya, perilaku ini sudah menjadi kebiasaan dan membudaya," tutur politisi PKS ini.
Dia memaparkan, meski pemerintah sudah melakuÂkan berbagai cara untuk mengatasi masalah bocornya soal UN, solusi tersebut tidak efektif. Pasalnya, pemerintah memiliki keterbatasan dalam menghadapi perilaku manusia. Apalagi, UN digelar di seluruh Indonesia yang sangat luas wilayahnya.
Dia pun mengusulkan, agar guru di setiap sekolah ditunjuk kembali sebagai penentu lulus atau tidaknya siswa.
"Evaluasi siswa dikembaÂlikan ke guru seperti tercanÂtum pada undang-undang," paparnya.
Pemikiran tersebut munÂcul, karena Yusuf menduga, kecurangan akan terus terjadi selama UN masih dilaksanaÂkan. Pasalnya, siswa ingin mendapat nilai tinggi. Belum lagi UN juga menjadi salah satu syarat masuk perguruan tinggi negeri (PTN).
"Selain itu, ada pengaruh pemerintah daerah yang ingin diekspose dengan hasil nilai UN yang tinggi," tuntasnya. ***