Berita

sby/net

Dunia

SBY: Bangun Asia Perlu Tinggalkan Paradigma Abad ke-19

SABTU, 11 APRIL 2015 | 15:44 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Mantan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyebut, saat ini stabilitas strategis dan kerjasama antara negara-negara besar yang mulai dijalin sejak runtuhnya Tembok Berlin sudah mulai retak.

Hal itu terlihat dari hubungan antara Amerika Serikat dan Rusia yang saat ini diliputi dengan kondisi saling curiga dan ketegangan. Begitu pun dengan hubungan antara Eropa dan Rusia menyusul konflik yang terjadi di Ukraina.

Sementara di Asia, SBY mengambil contoh hubungan Tiongkok dan Jepang yang bersitegang terkait dengan tumpang tindih klaim atas kepulauan Senkaku. Hubungan keduanya pun belum sepenuhnya normal.


"Sejarah telah berulang kali membuktikan, bahwa apa yang terjadi di antara negara-negara besar akan berdampak pada kesejahteraan negara dan stabilitas regional," kata SBY dalam sebuah forum di Singapura pagi tadi (Sabtu, 11/4).

Karena itulah SBY menyerukan agar pemain kunci global menjauhkan diri dari paradigma zero-sum abad ke-19 dan 20 yang tidak sehat di mana pergeseran kekuasaan selalui disertai dengan konflik baru dan bahkan perang.

"Saya akan menyerukan agenda ini sebagai pengantar dalam kerjasama geopoliti, di mana kekuatan besar, menengah dan kecil berinteraksi atas dasar kesamaan mereka ketimbang perbedaan, dengan pola pikir ke depan, meninggalkan zero-sum game dan  mendukung pendekatan win-win," jelasnya seperti dimuat Channel News Asia.

SBY menyerukan agar para pemain global bersaing dalam membangun perdamaian, kemajuan ekonomi, dan kesejahteraan umum.

"Ini berarti kami menyambut mereka bukan untuk menolak satu sama lain, melainkan untuk bersaing di wilayah dengan cara yang positif untuk memperluas soft power, melakukan perdagangan, investasi, pertukaran pendidikan, transfer wisatwan serta teknologi," tandasnya. [mel]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya