Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) mengeluhkan kebijakan naik turun tarif listrik. Kenaikan tarif malah menjatuhÂkan daya saing industri.
Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto mengatakan, kenaikan tarif setrum berpenÂgaruh terhadap biaya produksi. "Setiap kenaikan ada dampakÂnya kepada cost production dan peningkatan daya saing," katanya, kemarin.
Dalam biaya produksi, kata dia, ada 15-20 persen yang merupakan biaya listrik. Dia menyebutkan, kenaikan tarif lisÂtrik tak berpengaruh signifikan terhadap biaya produksi. "Setiap kenaikan tarif 20 persen, ada 2 persen pengaruhnya terhadap biaya produksi," kata dia.
Suryo pun tak menampik bahwa pengusaha ingin tarif listrik yang murah. Alasannya, dengan menekan biaya produksi, daya saing industri bisa meningkat. "Hal-hal inilah yang perlu diperhatikan. Kalau dari dunia usaha, inginnya semurah mungkin," tegasnya.
Sementara, Dirut PLN Sofyan Basyir berjanji menuÂrunkan tarif listrik untuk golongan industri. Sofyan agaknya menyadari, penurunan tarif listrik industri bisa meningkatkan gairah investasi sehingga dapat menciptakan lapangan kerja.
"Industri mungkin tarifnya diturunkan. Agar para invesÂtor antusias tambah lapangan kerja," kata Sofyan.
Dia mengakui, jika tarif listrik untuk golongan industri terus mengalami kenaikan maka akan menciptakan pengangguran. Sebab, populasi penduduk terus tumbuh namun lapangan kerja tak bertambah. "Kalau industri naik terus, tak ada yang mau inÂvestasi. Pengangguran terjadi," ungkapnya.
Menurutnya, meski tarif listrik turun PLN akan tetap menjaga keuangannya, dengan melakukan efisiensi menggunaÂkan pembangkit listrik energi murah dan mengganti pembangÂgkit yang menggunakan diesel dengan bahan bakar lain seperti gas dan batu bara. Dengan beÂgitu, PLN akan menghemat Rp 10 triliun.
"Tahun depan, kuncinya efisiensi PLN ke dalam. BBM akan diturunkan drastis, diesel-diesel akan dimatiin. Itu akan efisien Rp 10 triliun," pungÂkasnya.
Presiden Jokowi mengataÂkan, kebutuhan pasokan listrik sangat dibutuhkan untuk menÂdukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Untuk itu, pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik sebesar 35 ribu megawatt (mw) dalam lima tahun ke depan.
"Karena apa, tanpa listrik engÂgak mungkin kita akan bangun industri. Tanpa listrik enggak mungkin hotel yang baru meÂnyala lampunya," tegasnya.
Sementara, Badan KoordiÂnasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat ada 12 investor asing yang ingin berinvetasi disektor ketenagalistrikan. Total investaÂsinya mencapai 8,94 miliar dolar AS.
Kepala BKPM Franky SibaÂrani menyatakan hal tersebut merupakan bagian dari peÂlayanan PTSP Pusat di BKPM untuk sektor ketenagalistrikan. Franky menambahkan selain permohonan perizinan dari peruÂsahaan asing, BKPM juga sudah menerima permohonan izin investasi ketenagalistrikan dari 17 proyek Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) senilai Rp 3,45 triliun. ***