Berita

ahmad basarah/net

Ahmad Basarah: Pancasila Dikepung Dua Macam Fundamentalisme

SABTU, 04 APRIL 2015 | 15:59 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

. Tantangan kebangsaan Indonesia saat ini begitu berat. Ancaman terhadap kebangsaan, baik yang bersifat internal maupun eksternal, sekarang ini sudah betul-betul nyata ada di depan mata.

"Pancasila dikepung oleh dua kekuatan ideologi besar yang membawa  berbagai macam kepentingan," kata Ketua Badan Sosialisasi MPR, Ahmad Basarah, saat menjadi narasumber dalam acara sosialisasi Empat Pilar MPR dengan metode outbound di hotel Singgasana, Surabaya, Jumat malam (3/4).

Dua kekuatan besar yang mengepung Pancasila, menurut Basarah, adalah fundamentalisme pasar dan fundamentalisme agama. Dalam kondisi seperti ini sebagian masyarakat  mulai kehilangan jati diri, sehingga mulai ada yang melirik ideologi alternatif.


"Survei Setara Institute, beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa 60 persen siswa SLTP dan SLTA di Jakarta setuju Pancasila diganti dengan ideologi lain.  Ini luar biasa. Kenapa ini bisa terjadi?" ungkap Basarah.

Menurut Basarah, penyebabnya antara lain karena Pancasila di era Orde Baru dianggap sebagai tameng kekuasaan. Pancasila juga dianggap melakukan pembiaran terjadinya kekuasaan otoriter di era Orde Baru tersebut.

Perlakuan tehadap Pancasila di zaman Orde Baru tersebut mengakibatkan, setelah pemerintah pemerintah Orde Baru jatuh, maka lambat laun Pancasila mulai ditinggalkan. Para pejabat tidak berani lagi bicara tentang Pancasila. Dan, lebih parah  lagi, Pancasila dicabut dari mata pelajaran pokok di sekolah.

Oleh karena itu, katanya, sosialisasi Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika  menjadi penting. Dan tentu saja sosialisasi seperti ini bukan untuk seremonial semata.

"MPR yang melaksanakan kegiatan sosialisiasi ini betul-betul untuk membentuk calon pemimpin bangsa," demikian Basarah. [ysa]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

KPK Cium Skandal Baru Izin Tambang di Maluku Utara, Nama Haji Romo Ikut Terseret

Rabu, 01 April 2026 | 08:16

Wall Street Kembali Sumringah

Rabu, 01 April 2026 | 08:07

WFH ASN Diproyeksikan Hemat Kompensasi BBM Rp 6,2 Triliun

Rabu, 01 April 2026 | 07:53

Emas Melonjak 3 Persen, tapi Cetak Rekor Penurunan Bulanan Terburuk Sejak 2008

Rabu, 01 April 2026 | 07:42

RI Murka di DK PBB, Nilai Serangan TNI di Lebanon Tak Lepas dari Israel

Rabu, 01 April 2026 | 07:35

Pasar Saham Eropa Tutup Maret dengan Koreksi Terburuk dalam Empat Tahun

Rabu, 01 April 2026 | 07:24

Menhan AS Sebut Perang Iran Masuk Fase Penentuan

Rabu, 01 April 2026 | 07:17

Italia Gagal Lolos Piala Dunia Setelah Ditekuk 4-1 oleh Bosnia

Rabu, 01 April 2026 | 06:57

Katastropik Demokrasi Kita

Rabu, 01 April 2026 | 06:48

Soleman Ponto: Intelijen pada Dasarnya Teroris

Rabu, 01 April 2026 | 06:20

Selengkapnya