Berita

Bisnis

Noorsy: Rupiah Melemah Tidak Berpotensi Rusuh

KAMIS, 19 MARET 2015 | 18:17 WIB | LAPORAN:

Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi saat ini tidak akan menimbulkan kerusuhan seperti krisis ekonomi tahun 1998.

Demikian dikatakan pengamat ekonomi politik Ichsanuddin Noorsy dalam dialektika demokrasi ‘Terpuruknya Rupiah terhadap Dollar AS dan dampaknya terhadap perekonomian nasional’ bersama Wakil Ketua Fraksi Nasdem, Johnny G Plate dan anggota FPG DPR RI Mahyuddin di Gedung Nusantara III Senayan, Jakarta, Kamis (19/3).

Menurut Noorsy, potensi kerusuhan sekarang ini sudah terpusat, tidak menyebar atau terkanaliasi pada institusi-institusi tertentu. Sebagai contoh, kisruh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Polri, kini sudah digeser kepada Kajagung RI. Padahal sebelumnya sudah mulai menyebar ke kampus-kampus dan masyarakat yang mendukung KPK.


"Juga konflik parpol, yang semula terjadi antar pendukung, kini terpusat kepada Menkumham Yasonna Laoly. Jadi, potensi rusuh itu sulit meski tetap terbuka kemungkinan," tegasnya.

Sedangkan untuk level dunia, masih kata Ichsanuddin, konflik sudah dikanalisasi oleh Amerika Serikat kepada Islamic State of Irak and Suriah (ISIS). Sebab itulah harus hati-hati berbicara ISIS jika tak mau terjebak politisasi Barat.

Meski diakuinya potensi kerusuhan tetap ada pada 2015. Persoalannya sekarang terjadi perang dagang industri dan keuangan-moneter dunia antara Amerika Serikat yang dibantu Eropean Central Bank (ECB), dan All England menghadapi kekuatan China, Rusia, India, serta lainnya.

"Sedangkan Indonesia sebagai tempat yang bagus, empuk untuk menjadi permainan Amerika itu," ujarnya.

Terbukti, pemerintah gagal menstabilkan harga, termasuk nilai rupiah dan kebutuhan orang banyak. Ditambah lagi gagal menguasai sumber daya manusia, produksi, dan juga distribusi. Dengan kata lain, lanjut Noorsy, Amerika dan Eropa berhasil memaksa Indonesia agar tetap melakukan ekspor bahan mentah.

"Mengapa itu terjadi terulang-ulang? Karena sebelumnya SBY sukses menanamkan liberalisasi pasar, maka sulit keluar dari masalah ini jika tidak merubah undang-undang nomor 24 tahun 1999 dan undang-undang nomor 25 tahun 2007," tegasnya.

Noorsy mengingatkan, utang luar negeri Indonesia saat ini mencapai 292 miliar dolar AS yang terdiri dari swasta sebesar 162 miliar dolar AS dan pemerintah sebesar 130 miliar dolar AS. Sementara devisi yang ada 111 miliar dolar AS, itu juga masih dipertanyakan kepemilikannya.

"Itulah yang mudah dimainkan sehingga risk analisisnya terpuruknya ekonomi AS berisiko pada seluruh sektor perekonomian Indonesia dan enam paket kebijakan ekonomi Jokowi tidak berpengaruh apa-apa,” kata Ichsanuddin.[wid]


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Legislator Nasdem: Bukan Hal Sulit bagi Polri Kejar Spam Judol

Kamis, 02 Juli 2026 | 19:57

Aksi Dramatis Anggota TNI Selamatkan Balita dari Cengkeraman Paman Sakau

Kamis, 02 Juli 2026 | 19:45

Sempat Lolos OTT KPK, Bos PT MSA Fika Nur Alawi Resmi Pakai Rompi Oranye

Kamis, 02 Juli 2026 | 19:35

Lagu ‘Mas Bahlil Ganteng’ Berdampak Positif terhadap Citra Golkar

Kamis, 02 Juli 2026 | 19:10

Cak Imin Pastikan Sekolah Rakyat Sukoharjo Siap Sambut Tahun Ajaran Baru

Kamis, 02 Juli 2026 | 19:07

Telkom Akses Perkuat Kompetensi SDM Digital di Daerah 3T

Kamis, 02 Juli 2026 | 18:48

Aliansi Kontraktor Geruduk Sudin PRKP Jakut Gegara Dugaan Monopoli Proyek

Kamis, 02 Juli 2026 | 18:41

Peresmian Kantor UN Tourism Kukuhkan Spanyol di Garda Terdepan Multilateralisme

Kamis, 02 Juli 2026 | 18:30

Kejagung Endus Dugaan Keterlibatan Kolonel TNI Aktif dalam Korupsi MBG

Kamis, 02 Juli 2026 | 18:25

Baru Tiga Bulan Menjabat, Dirut Pos Indonesia Mundur

Kamis, 02 Juli 2026 | 18:21

Selengkapnya