Berita

Freeport Belum juga Bangun Smelter, Saat yang Tepat bagi Indonesia Putus Kontrak

SELASA, 17 MARET 2015 | 06:37 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Harapan besar masyarakat Indonesia khususnya Papua yang menginginkan supaya pemerintah tidak memperpanjang kontrak PT Freeport sepertinya akan sia-sia.

Pasalnya, penandatangan MoU perpanjangan antara pemerintah dengan PT Freeport beberapa waktu lalu mengisyarakatkan Jokowi tidak akan berani memutus kontrak dengan Freeport sebelum 25 Juli 2015 nanti.

Menurut pengamat politik Jajat Nurjaman, dengan memberikan MoU perpanjangan saja membuktikan Indonesia sudah takluk sama asing. Padahal sudah jelas dalam hal ini Freeport telah lalai menjalankan kesepakatan sebelumnya yang akan segera membangun smelter di Indonesia, nyatanya hingga hari ini tidak kunjung jadi.


"Kondisi seperti itu seperti itu saja pemerintah masih diam, apalagi sampai berani memutus kontraks sepertinya merupakan hal yang mustahil terjadi," jelas Jajat (Selasa, 17/3).

Direktur Eksekutif Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID) ini menjelaskan, kelalaian Freeport membangun smelter seharusnya momentum yang tepat bagi Indonesia untuk memutus kontrak dan mengambil sikap tegas terhadap, bukan malah memberikannya kesempatan lagi.

Jika kontrak tersebut dibiarkan terjadi dan pemerintah kembali dirugikan, Indonesia akan mengalami kerugian besar-besaran, apa masih akan didiamkan terus?

"Kondisi saat ini sebenarnya jelas sangat menguntungkan pihak Indonesia, dengan adanya pelanggaran pembangunan Smelter kita mempunyai posisi kuat untuk mengambil keuntungan. Papua itu penting bagi Indonesia. Jika Freeport terus dibiarkan mengeksploitasi tanpa aturan yang jelas, berarti secara tidak langsung menunjukan pemerintahan yang lemah dan takut sama bangsa asing," tutup Jajat. [zul]

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

BGN Setop Sementara Operasional 1.276 SPPG, Ini Sebabnya

Kamis, 17 September 2026 | 01:56

DPR Apresiasi Kejagung Sita Aset dalam Kasus Febrie Tanpa Pandang Bulu

Kamis, 17 September 2026 | 01:30

Perang Dunia Ketiga Is Coming?

Kamis, 17 September 2026 | 01:04

KKP dan FAO Bidik Sektor Perikanan Genjot Ketahanan Pangan

Kamis, 17 September 2026 | 00:49

Kasus Teror di Papua Bikin Masyarakat Ragu dengan Kemampuan TNI-Polri

Kamis, 17 September 2026 | 00:20

Pemimpin Merupakan Refleksi Sistem Politik yang Dibangun Masyarakat

Kamis, 17 September 2026 | 00:01

Pergantian Menteri Harus Jadi Momentum Perkuat Kesejahteraan Rakyat

Rabu, 16 September 2026 | 23:35

Ada “Nama Ajaib”, Bos Pajak dan Bea Cukai Minta Rotasi Era Purbaya Dibatalkan

Rabu, 16 September 2026 | 23:08

KPK Didesak Bongkar Jaringan Sistematis Korupsi Layanan ATR/BPN

Rabu, 16 September 2026 | 22:41

Prabowo: PT Timah Untung 900 Persen Berkat Efisiensi BUMN

Rabu, 16 September 2026 | 22:36

Selengkapnya