Berita

ilustrasi/net

Dunia

Profesor Denmark Serukan Pornografi Masuk ke Ruang Kelas

SENIN, 16 MARET 2015 | 13:45 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Seorang seksolog terkemuka asal Denmark, Prof Christian Graugaard asal Aalborg University menyerukan agar pornografi ditampilkan di dalam kelas. Tujuannya adalah agar membantu remaja mengkritisi dan mecari perbedaan jelas antara pornografi dan realitas hubungan seksual.

"Usulan saya adalah untuk secara kritis membahas pornografi di dalam kelas tingkat 8 dan 9 (Usia 15 hingga 16 tahun), sebagai bagian dari strategi mendidik yang masuk akal, yang dilakukan oleh guru yang terlatih," katanya kepada Guardian (Senin, 16/3).

"Kita tahu dari penelitian bahwa sebagian besar remaja telah melihat pornografi pada usia dini. Sehingga tidak perlu dipertanyakan lagi soal pentingnya pendidikan tersebut bagi anak-anak," tambahnya.


Ia merujuk pada sebuah studi yang menunjukkan bahwa 99 persen anak laki-laki dan 86 persen anak perempuan di Skandinavia telah melihat film porno pada saat mereka berusia 16. Karena itulah, kata Graugaard, penting untuk memastikan bahwa remaja tersebut memiliki keterampilan yang diperlukan untuk melihat porno dan seksualitas dengan cara yang konstruktif.

"Kita harus memperkuat kemampuan mereka untuk membedakan antara penggambaran media dari tubuh dan seks dan kehidupan sehari-hari remaja rata-rata. Mereka harus menjadi konsumen yang teliti dan kritis," sambungnya.

Perlu diketahui, pendidikan seks sudah wajib di Denmark sejak tahun 1970 dan pornografi sudah termasuk dalam kurikulum di beberapa sekolah di Denmark. Namun Graugaard mengkritisi bahwa sekolah menafsirkan pedoman nasional tersebut dengan cara yang berbeda.

"Jadi penting bahwa pendidikan memenuhi standar kualitas tertentu di seluruh negeri, bahwa guru yang terlatih dan mengikuti perkembangan metode kekinian yang terus dikembangkan," tandsnya. [mel]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya