Berita

goodluck jonathan/net

Dunia

Jadi Strategi Politik Jelang Pemilu, Raja Maroko Tolak Telepon Presiden Nigeria

SENIN, 09 MARET 2015 | 15:27 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Raja Maroko, Raja Mohammed VI menolah permintaan Presiden Nigeria, Goodluck Jonathan untuk melakukan percakapan melalui sambungan telepon pekan lalu.

Penolakan itu dilakukan oleh Raja Mohammed VI karena menilai permintaan tersebut dibuat di waktu yang tepat, mengingat beberapa pekan lagi Nigeria akan menggelar pemilihan umum yang penting.

Menurut keterangan dari Kementerian Luar Negeri Maroko, Raja Mohammed VI menolak permintaan itu karena menilai percakapan itu bukan hanya tindakan diplomatik, tapi juga upaya untuk mencari dukungan pemilu.


Dalam pernyataan yang sama dijelaskan bahwa selain menolak permintaan percakapan telepon, Raja Mohammed VI juga menolak pengiriman utusan Nigeria untuk Maroko karena menilai, Presiden Jonathan berusaha mengambil keuntungan dari pengaruh Maroko demi mengamankan suara pemilih Muslim di Nigeria dalam pemilu mendatang.

Seperti dimuat Premium Time Sng, diperkirakan, Jonathan tengah khawatir karena popularitas rivalnya dalam pemilu mendatang, Muhammadu Buhari semakin meningkat. Jonathan pun kemudian mengeksplorasi jalan lain untuk mendulang dukungan, terutama untuk mengamankan suara dari wilayah Nigeria Utara di mana sebagian besar penduduknya merupakan Muslim. Rivalnya sendiri berasal dari Nigeria bagian Utara.  

Langkah Jonathan untuk memperkuat hubungan diplomatik dengan Raja Maroko dipandang sebagai langkah yang strategis untuk menciptakan citra positif di kalangan pemilih Muslim Nigeria.

Hubungan bilateral antara Nigeria dan Maroko sendiri terjalin baik selama beberapa tahun terakhir. Hal itu terutama karena keputusan Nigeria untuk mendukung kemerdekaan di wialayah Sahara Barat Maroko.

Namun demikian, Nigeria juga mengakui Republik Demokratik Arab Sahrawi yang dideklarasikan oleh kelompok separatis Front Polisario. Kelompok yang didukung oleh Aljazair itu diketahui telah memimpin pemberontakan bersenjata melawan pemerintah Maroko selama beberapa dekade.

Bukan hanya itu, Nigeria juga telah melobi PBB untuk mendirikan kelompok pemantau HAM untuk menyelidiki pelanggaran hak oleh pasukan Maroko di Sahara Barat. [mel]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya