Berita

ilustrasi/net

Jokowi Disarankan Anulir Eksekusi Mati

SENIN, 09 MARET 2015 | 10:27 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Negara harus melindungi warga luar negeri, dan bukan hanya warga Indonesia. Karena itu, hukuman mati merupakan bentuk pengkhianatan terhadap UU 1945.

"Kalau bisa, Jokowi menganulir eksekusi mati itu. Karena sudah mencabut roh dari makna UU 45. Padahal jelas, dalam UU 45, Indonesia juga harus melindungi warga luar negeri dalam hak hidupnya. Jadi bukan warga Indonesia saja," kata pakar Hukum dan Tata Negara, Irman Putra Sidin, saat dihubungi wartawan beberapa saat lalu (Senin, 9/3).

Menurutnya, hukuman mati ini bisa digantikan dengan cara lain. Dan tidak bisa dengan alasan kedulatan hukum, lalu hukuman mati dilakukana.


Irman juga menilai wajar bila Australia memperjuangkan warganya agar tak di eksekusi mati. Sebab hal yang sama juga akan dilakukan Indonesia jika ada warganya yang akan dieksekusi mati di negara lain.
 
Oleh karena itu, ia mengapresiasi sikap kejaksaan yang tak buru-buru mengambil sikap. "Jadi tindakan penundaan itu sudah tepat. Termasuk sikap Jokowi untuk melakukan sikap tersebut," ungkap Irman.
 
Irman menambahkan, jika Indonesia dapat menyelamatkan hak hidup mereka, maka ini akan berdampak baik bagi kerjasama Indonesia dengan Australia.

"Dampaknya, bahwa negara lain akan melakukan aksi saling melindungi," demikian Irman. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Intervensi Jepang Runtuhkan Dominasi Dolar AS

Jumat, 01 Mei 2026 | 08:15

Saham Big Tech Bergerak Beragam, Alphabet dan Amazon Moncer

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:58

Mojtaba Khamenei: Tak Ada Tempat bagi AS di Teluk Persia

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:36

Harga Emas Melonjak setelah Jepang Intervensi Pasar Mata Uang

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:26

STOXX 600 Capai Level 611,28 Saat Sektor Industri Melesat di Atas 1 Persen

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:06

Diplomasi Raja Charles III terhadap ‘King’ Trump

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:57

Celios: Kita Menolak MBG Dijadikan Alat Politik

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:28

Keluarga, Buruh dan Prabowonomics

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:02

Pembatalan Unjuk Rasa May Day di DPR Dianggap Warganet ‘Sudah Cair’

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:39

Prabowo-Gibran Diselamatkan Beras

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:15

Selengkapnya