Berita

Golden Pen of Freedom/net

Dunia

Penghargaan Pena Emas Tahun ini Disiapkan Bagi Wartawan yang Tewas Saat Bertugas

RABU, 04 MARET 2015 | 12:27 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Penghargaan tahunan terkait kebebasan pers atau Golden Pen of Freedom yang digelar oleh Asosiasi Surat Kabar dan Penerbit Berita Dunia atau World Association of Newspapers and News Publishers (WAN-IFRA) pada tahun 2015 ini akan diberikan kepada para wartawan yang tewas ketika melakukan pekerjaanya.

"Untuk menghormati rekan yang tewas untuk fokus pada sorotan internasional terkait dengan masalah keamanan dan impunitas bagi para jurnalis di seluruh dunia, pemberian Golden Pen of Freedom diberikan kepada jurnalis yang tewas dalam melakukan tugasnya. Hal ini dilakukan untuk mengirimkan pesan yang kuat kepada para pelaku kejahatan terhadap media serta legislator dan pemangku kekuasaan untuk membuat undang-undang yang lebih baik dalam menegakkan perlindungan yang lebih kuat," kata Dewan WAN-IFRA dalam keterangan dalam membuat penghargaan.

Pengumuman ini dibuat untuk menyoroti tragedi yang terjadi di kalangan wartawan yang berkorban demi menegakkan hak kebebasan berekspresi. Sejak tahun 1992, tercatat setidaknya ada hampir 1.200 wartawan yang tewas. 16 di antaranya tewas pada tahun 2015 ini, termasuk 8 di antaranya tewas dalam serangan tunggal tanggal 7 Januari lalu di Charlie Hebdo Perancis.


Dari total hampir 1.200 wartawan yang tewas itu, menurut data statistik dari Komite Perlindungan Wartawan, 742 di antaranya dibunuh secara langsung. Sekitar 90 persen kasus tersebut, pelakunya tidak diseret ke pengadilan.

"Dengan penghargaan ini, pers dunia mengirimkan sinyal gemilang perlawanan terhadap orang-orang yang percaya bahwa membungkam wartawan akan membatasi kebebasan berekspresi," lanjut keterangan tersebut.

"Sementara kita menghormati kehidupan dan karya beberapa rekan kami yang paling berani dan telah membuat pengorbanan untuk menjaga agar kita tetap mendapatkan informasi, kami berjanji untuk melanjutkan komitmen mereka untuk memberikan sinar terang ke sudut-sudut tergelap dari dunia untuk mengekspos kesalahan, menentang pelanggaran dari kuat, dan menjamin hak publik untuk tahu," sambung keterangan Dewan WAN-IFRA seperti rilis yang diterima redaksi (Rabu, 4/3).

Perlu diketahui, Golden Pen of Freedom merupakan penghargaan tahunan yang dibuat oleh WAN-IFRA sejak tahun 1961 untuk mengakui tindakan yang luar biasa terkait kebebasan pers, baik secara tertulis ataupun perbuatan, baik secara individu atau kelompok maupun lembaga.

Penghargaan ini akan diberikan secara tradisional pada saat upacara pembukaan World News Media Congress, World Editors Forum, dan World Advertising Forum yang akan digelar di Washington pada tanggal 1-3 Juni mendatang.

Dengan memberikan penghargaan tersebut, WAN-IFRA berharap bisa memobiliasasi masyarakat penerbitan berita internasional untuk menyerukan diakhirinya kekerasan yang menargetkan profesi. Seruan itu ditunjukkan kepada industri untuk terlibat dengan rencana keselamatan jurnalis dan isu impunitas serta mekasnisme keamanan lainnya untuk melindungi newsroom dan kehidupan wartawan yang dilakukan PBB.

Pada waktu yang bersamaan, penghargaan itu juga menyerukan kepada pemerintah di seluruh dunia untuk menunjukkan kemauan politik yang diperlukan untuk mengakhiri impunitas bagi pelaku pembunuhan jurnalis. Bukan hanya itu, penghargaan tersebut juga ditujukkan bagi mereka yang mengakui karya jurnalistik yang independen sebagai alat bantu politik yang positif bagi ekonomi, politik, dan sosial. [mel]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya