Berita

jokowi/net

Kepala BIN Jokowi Tidak Boleh Memantik Gerakan Save BIN

JUMAT, 27 FEBRUARI 2015 | 11:33 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Presiden Joko Widodo hingga hari ini belum menentukan Kepala Badan Intelijen (BIN). Namun sejumlah nama yang beredar telah menjadi perbincangan di antara elit politik, dan publik masih berharap-harap cemas siapa yang akan ditunjuk Jokowi.

Direktur Eksejutif Pusat Kajian Trisakti (Pusaka Trisakti) mengungkapkan bahwa Jokowi akan cenderung lebih berhati-hati mengusulkan seseorang untuk menjadi Kepala BIN.

"Proses pencalonan Kepala Polri  yang penuh dinamika kemarin menjadi catatan Jokowi untuk lebih melihat lebih dalam sosok kepala BIN. Jokowi tidak mau dicatat sejarah mengembalikan kegelapan masa lalu BIN, "ujar Fahmi di Jakarta, Jumat pagi (27/2).


Menurut Fahmi, Kepala BIN ke depan tidak bisa sekedar bermodalkan pengalaman intelejen dan dukungan parpol ataupun ormas saja namun membikin publik dan para penggiat civil society "pasang kuda-kuda" terhadap kepemimpinan Jokowi karena jika itu pertimbanganya memutuskan kepala BIN jelas tidak strategis.

Rekam jejak Kepala BIN diukur sejauhmana pengalaman profesionalisme yaitu zero tolerance kegagalan dalam sebuah operasi yang pernah terbongkar atau salah prosedur yang justru menimbulkan gejolak dan kekhawatiran dipublik. Jika itu yang pernah terjadi itu namanya tidak profesional.

"PR BIN kedepan ini berat pasca Pasar Bebas ASEAN karena di perbatasan sebagai pintu keluar-masuk ancaman stabilitas harus jadi prioritas. Saya cenderung Kepala BIN yang memiliki pengalaman intelejen lintas perbatasan yang menguasai hubungan antar negara serta teritorial," ungkap Fahmi.

"Jangan Kepala BIN yang dipilih Jokowi malah menjadi 'liabalities' bukan 'asset' bagi kepemimpinan Jokowi-JK dimata publik. Kepala BIN tidak boleh ada beban sejarah seperti layaknya Pak Jokowi. Ketidakcermatan dapat memantik Gerakan Save BIN," demikian Fahmi. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Intervensi Jepang Runtuhkan Dominasi Dolar AS

Jumat, 01 Mei 2026 | 08:15

Saham Big Tech Bergerak Beragam, Alphabet dan Amazon Moncer

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:58

Mojtaba Khamenei: Tak Ada Tempat bagi AS di Teluk Persia

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:36

Harga Emas Melonjak setelah Jepang Intervensi Pasar Mata Uang

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:26

STOXX 600 Capai Level 611,28 Saat Sektor Industri Melesat di Atas 1 Persen

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:06

Diplomasi Raja Charles III terhadap ‘King’ Trump

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:57

Celios: Kita Menolak MBG Dijadikan Alat Politik

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:28

Keluarga, Buruh dan Prabowonomics

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:02

Pembatalan Unjuk Rasa May Day di DPR Dianggap Warganet ‘Sudah Cair’

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:39

Prabowo-Gibran Diselamatkan Beras

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:15

Selengkapnya