Berita

jokowi/net

Komnas HAM Curigai Pemerintahan Jokowi Mau Bawa Lagi ke Sistem Ototiter

KAMIS, 26 FEBRUARI 2015 | 15:22 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Di tengah-tengah memanasnya konflik institusional antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri serta tingginya dinamika politik partai politik, parlemen dan lembaga kepresidenan yang tidak menentu, juga tingginya opini tentang hukuman mati, ternyata ada satu kebijakan pemerintah di bidang pertahanan dan keamanan.

Kebijakan pemerintah ini akan mempengaruhi sistem demokrasi Indonesia. Sebab pemerintah telah mengeluarkan Perpres 2/2015 tentang Rencana Strategi Pembangunan Pertahanan dan Keamanan Pemerintah 2015 -2019, yang merupakan salah satu strategi pertahanan dan keamanan dengan membentuk "sistem pertahanan dan keamanan integratif".

"Saya ingin bertanya mengapa harus ada kata integratif, jika sistem pertahanan integratif bisa dimaklumi tetapi bagaimana keamanan juga integratif?" kata Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai, beberapa saat lalu (Kamis, 26/2).


Selain itu, lanjut Natalius, untuk memewujudkan sistem pertahanan dan keamanan integratif, pemerintah juga akan membentuk Badan Pertahanan dan Keamanan Nasional dan di wilayah juga akan membentuk Komando Wilayah Hamkam. Badan ini juga menangani persoalan keamanan insani atau human security yang merupakan pekerjaan polisional dan pekerjaan sipil misalnya keamanan atas sandang, pangan dan papan yang selama ini dikerjakan oleh lembaga-lembaga sipil melalui kementerian.

"Sebagai komisioner Komnas HAM ingin menegaskan bahwa kebijakan ini diduga  akan munculkan sistem otoritarianisme dan militeristik seperti yang kita mengalami situasi traumatik pada Orde Baru," tegas Natalius.

Natalius menjelaskan, pemisahan secara tegas antara pertahanan (external security) dan keamanan (internal order) adalah bentuk distribusi secara tegas sebagai wujud negara demokrasi dan demi tegaknya kedigdayaan sipil sebagaimana ciri negara modern.

"Saya menghimbau agar kebijakan ini perlu dijadikan diskursus nasional untuk menemukan terget pemerintah sebenarnya. Demikian pula seluruh akademisi, pengamat dan juga sipil society mengkritisi secara profesional, imparsial, objektif juga transparan," demikian Natalius. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Intervensi Jepang Runtuhkan Dominasi Dolar AS

Jumat, 01 Mei 2026 | 08:15

Saham Big Tech Bergerak Beragam, Alphabet dan Amazon Moncer

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:58

Mojtaba Khamenei: Tak Ada Tempat bagi AS di Teluk Persia

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:36

Harga Emas Melonjak setelah Jepang Intervensi Pasar Mata Uang

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:26

STOXX 600 Capai Level 611,28 Saat Sektor Industri Melesat di Atas 1 Persen

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:06

Diplomasi Raja Charles III terhadap ‘King’ Trump

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:57

Celios: Kita Menolak MBG Dijadikan Alat Politik

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:28

Keluarga, Buruh dan Prabowonomics

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:02

Pembatalan Unjuk Rasa May Day di DPR Dianggap Warganet ‘Sudah Cair’

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:39

Prabowo-Gibran Diselamatkan Beras

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:15

Selengkapnya