Berita

adhie massardi/net

Untuk Jadi Presiden boleh Bohong, Tapi Setelah Berkuasa Harus Ingat Sumpah

SELASA, 24 FEBRUARI 2015 | 17:16 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Untuk meraih jabatan presiden dan jabatan politik atau jabatan publik lainnya, tidak ada salahnya dan dibenarkan bila melakukan berbagai manuver. Bahkan kalau tidak ketahuan, boleh juga menggunakan cara-cara yang tidak halal, misalnya dengan mengumbar janji dan aneka kebohongan lainnya.

Demikian sindirian Sekjen Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI), Adhie M Massardi. Terlepas dari cara yang digunakan, Adhie mengingatkan, setelah berkuasa kebijakan dan gerak-gerik seorang presiden harus berlandaskan Konstitusi dan UU yang berlaku, etika, moral serta mempertimbangkan kepentingan rakyat. Persis sumpah yang dibacabsaat pelantikan.

Oleh sebab itu, lanjut Adhie dalam keterangan kepada redaksi beberapa saat lalu (Selasa, 24/2), tidak ada cara lain dalam menilai sikap, perilaku dan keputusan-keputusan presiden, dan pejabat politik atau pejabat publik lainnya, kecuali menggunakan kerangka dan acuan Konstitusi dan UU yang berlaku serta tata-nilai dan moral.


"Maka celakalah kaum cerdik pandai, para akademisi, pengamat politik, dan tokoh-tokoh masyarakat yang belakangan ini menggunakan penafsiran alegoris dalam melihat setiap langkah, kebijakan yang dilahirkan dan gerak-gerik presiden, dan pejabat politik atau pejabat publik lainnya," ungkap Adhie.

Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) ini menjelaskan bahwa produk penafsiran alegoris, dengan meneropong hal-hal yang tersirat dalam teks kitab suci dan perilaku para sufi, yang berkembang pada abad pertama hingga abad pertengahan ini, sangat menyesatkan apabila digunakan untuk abad demokrasi yang menjunjung tinggi Konstitusi dan akal sehat. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Intervensi Jepang Runtuhkan Dominasi Dolar AS

Jumat, 01 Mei 2026 | 08:15

Saham Big Tech Bergerak Beragam, Alphabet dan Amazon Moncer

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:58

Mojtaba Khamenei: Tak Ada Tempat bagi AS di Teluk Persia

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:36

Harga Emas Melonjak setelah Jepang Intervensi Pasar Mata Uang

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:26

STOXX 600 Capai Level 611,28 Saat Sektor Industri Melesat di Atas 1 Persen

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:06

Diplomasi Raja Charles III terhadap ‘King’ Trump

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:57

Celios: Kita Menolak MBG Dijadikan Alat Politik

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:28

Keluarga, Buruh dan Prabowonomics

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:02

Pembatalan Unjuk Rasa May Day di DPR Dianggap Warganet ‘Sudah Cair’

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:39

Prabowo-Gibran Diselamatkan Beras

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:15

Selengkapnya