Berita

pilkada/net

Publik Ingin Pilkada Langsung Digelar Minimal Tiga Kali dalam Lima Tahun

SELASA, 10 FEBRUARI 2015 | 17:02 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

. RUU Pilkada langsung yang telah disahkan kini menyisakan persoalan dalam hal pelaksanaan, apakah itu akan dilaksanakan secara serentak atau berurutan tergantung masa jabatan kepala daerah.

Temuan survei dari Lingkaran Survei Indonesia-Denny JA (LSI-Denny JA) menunjukkan bahwa mayoritas publik ingin pilkada serentak dilakukan lebih dari sekali dalam kurun waktu satu tahun.

Mayoritas publik atau sebanyak 65,70 persen responden menginginkan pilkada serentak dilakukan lebih sering, minimal tiga kali dalam lima tahun, kecuali di tahun pemilu nasional. Sisanya 15,80 persen tidak menginginkan dan tidak tahu sebanyak 18,50 persen.


"Dengan pilkada serentak lebih sering, pejabat yang ditunjuk oleh pemerintah pusat tidak akan terlalu lama atau terlalu banyak. Jarak antara selesainya masa jabatan seorang kepala daerah dan jadwal pilkada selanjutnya di daerah itu menjadi lebih singkat," jelas peneliti LSI-Denny JA, Fitri Hari dalam konferensi pers di kantor LSI-Denny JA di Rawamangun, Jakarta (Selasa, 10/2).

Alasannya, karena daerah yang dijabat oleh pelaksana (plt) kepala daerah dinilai tak legitimate. Publik di pedesaan juga tak menginginkan terlalu banyak dan terlalu lama kepala daerah dijabat oleh pejabat sementara yang ditunjuk pemerintah pusat.

"Kepala daerah sebaiknya jangan terlalu lama dan jangan terlalu banyak dijabat oleh pejabat sementara yang ditunjuk pemerintah pusat. Bagaimanapun pemimpin daerah yang dipilih oleh rakyat secara langsung diyakini akan lebih aspiratif," lanjut Fitri.

Survei ini menggunakan metode multistage random sampling dengan 1.200 responden dan margin of error sebesar kurang lebih 2,9 persen. Survei dilaksanakan di 33 propinsi di Indonesia. Survei ini juga dilengkapi dengan penelitian kualitatif dengan metode analisis media, FGD, dan in depth interview.  Survei didanai secara mandiri oleh LSI-Denny JA. [ysa]

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Pakar HTN Sambut Baik Putusan MK Perkuat Kedudukan Hasil Audit BPK

Selasa, 21 April 2026 | 18:18

Refly Harun soal Info P21 Kasus Ijazah Jokowi: Itu Ngarang!

Selasa, 21 April 2026 | 18:17

Efek Domino MBG, Pendapatan Petani Naik 60 Persen

Selasa, 21 April 2026 | 18:13

Hadiah Hari Kartini: Pengesahan UU PPRT Lindungi Pahlawan Domestik

Selasa, 21 April 2026 | 18:04

Staf PBNU Mangkir dari Panggilan, KPK Siap Jadwal Ulang

Selasa, 21 April 2026 | 17:52

RUU PPRT Disahkan DPR Bukti Perempuan Hadir di Parlemen

Selasa, 21 April 2026 | 17:43

Peringati Hari Kartini, KPP: Perempuan Harus Aktif dari Suara ke Aksi

Selasa, 21 April 2026 | 17:42

Huawei Rilis Pura 90 Series, Ini Spesifikasi, Fitur Kamera, dan Harganya

Selasa, 21 April 2026 | 17:16

Staf Orang Kepercayaan Maidi Dicecar KPK soal Penampungan Dana CSR

Selasa, 21 April 2026 | 17:13

13 WNI Jadi Korban Kebakaran 1.000 Rumah Apung di Malaysia

Selasa, 21 April 2026 | 17:10

Selengkapnya