Berita

Dunia

Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri Harus Bisa Jadi Agen "InCon"

JUMAT, 06 FEBRUARI 2015 | 04:54 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

. Mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri sebaiknya perlu mempersiapkan diri dan memiliki spirit sebagai "Indonesia Connection" (InCon). InCon memiliki dua fungsi ganda, yakni pertama sebagai pendamping bagi warga Indonesia yang ingin mengenal negara tujuan; dan kedua, sebagai public relation bagi masyarakat negara tujuan yang ingin mengenal Indonesia.

Karena itu, perlu perhatian khusus pemerintah untuk memberdayakan potensi para mahasiswa yang belajar di luar bagi kepentingan negara dan bangsa.
 
Demikian harapan Gilang Pramasasti, warga negara Indonesia yang tinggal di Beijing, Tiongkok, dalam diskusinya dengan Konsultan Komunikasi, Putut Prabantoro, di Beijing belum lama ini.


Gilang adalah sarjana lulusan Beijing Ming Yuan University  Fakultas Bidang Ekonomi Perdagangan Internasional, pada tahun 2009. Ia masuk ke daratan Tiongkok pada tahun 2003, menikah dengan puteri Tiongkok dan kemudian dikaruniai seorang putera. Karena kepiawiannya berbahasa Mandarin, pria kelahiran Majalengka, Jabar ini banyak diminta bantuannya sebagai penerjemah, pendamping atau LO bagi banyak pihak dari Indonesia termasuk instansi pemerintah.
 
"Saya belajar dari apa yang saya alami dan hadapi saat masuk Beijing pada tahun 2003. Dan saya kira kondisinya sama sampai kapanpun. Saya melihat bahwa mahasiwa Indonesia yang belajar di Indonesia harus dibekali karakter sebagai Indonesia Connection. Hanya saja saya melihat ada jurang komunikasi yang belum bertemu dalam pembentukan karakter itu," ujar Gilang yang keseharian bekerja sebagai manajer di Departemen Beijing Red & White Cultural and Development Co. Ltd.
 
Menurut pria kelahiran September 1978 ini, InCon sangat diperlukan di negara tujuan yang bahasanya bukanlah Inggris, meskipun disadari untuk menjadi InCon di luar negeri tidak mudah. Namun dengan arahan yang jelas dari pemerintah, dalam hal ini KBRI, para mahasiswa tersebut mampu menjadi duta-duta muda Indonesia.
 
"Tiongkok, sebagai misal, memiliki hubungan budaya yang sangat erat dengan Indonesia. Banyak potensi yang bisa dipelajari dari negara berpenduduk terbanyak di dunia ini. Misalnya, Indonesia perlu belajar bagaimana bangsa Tiongkok mengelola dan sangat menghargai peninggalan nenek moyang seperti situs-situs tua. Lalu bagaimana negara ini membangun museum bertaraf internasional dapat dipelajari. Bangsa Tiongkok sangat menghargai peninggalan para nenek moyangnya dan jejak kejayaan Tiongkok sebagai suatu bangsa sangat bisa terlihat dari situs-situs tersebut," ujar pria penggemar kepala ikan khas Hunan ini.
 
Namun kendala untuk menimba pengalaman dari Tiongkok  terletak pada bahasa atau komunikasi. Sebenarnya, kendala yang sama juga dihadapi oleh warga Indonesia dalam kunjungannya ke negara tujuan yang tidak berbahasa Inggris, seperti Rusia, Italia, Spanyol, Brasil, dan lainnya. Dan, mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri akan sangat membantu mengurangi kendala tersebut.
 
Bagi ayah dari Emir Putrasasti ini, dari Tiongkok ia dapat melihat Indonesia sebagai suatu bangsa yang penuh berkah karena begitu banyak kelimpahan. Bahkan ia mengaku bisa membandingkan antara Indonesia dan Tiongkok dalam kurun waktu tahun 2003 hingga tahun 2015. Sangat berbeda sekali perkembangannya di mana Tiongkok sekarang menjadi negara dengan banyak mega kota (mega cities) jauh melebihi kota Jakarta. Bahkan tidak sedikit kota kabupaten di Tiongkok yang besarnya melebihi Jakarta.
 
"Pada tahun 2003, baru ada 4 line subway dan sekarang Tiongkok sudah memilik 14 line subway. Belajar sesuatu  dari bangsa lain dalam membangun dirinya sangat penting bagi bangsa Indonesia. Hanya saja, seringkali, suatu negara hanya menjadi negara tujuan wisata dan bukan tujuan yang lain. Sekali lagi, hal itu tidak bisa disalahkan, karena kendalanya terletak pada bahasa. Kendala bahasa itu bisa dijembatani dengan memberdayakan mahasiswa Indonesia yang belajar di negara tujuan," ujarnya.

Menurut Gilang, dengan kelimpahan dan kemudahan yang ada termasuk sumberdaya alam dan kesuburan tanah, Indonesia harusnya berkembang melebihi Tiongkok.  Kelimpahan sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia seharusnya menjadi kekuatan untuk menjadi bangsa besar. 
 
Suami dari Li Min ini kemudian menyarankan para mahasiswa Indonesia yang belajar di negara tujuan harus memaksakan diri untuk mempelajari budaya, sejarah, adat istiadat, karakter bangsa dan kuliner setempat.  Mengetahui kelima hal tersebut menjadi modal yang sangat berharga ketika seorang mahasiswa menjadi InCon. [ald]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

UPDATE

Rano: Pendidikan Harus Memerdekakan Manusia

Jumat, 08 Mei 2026 | 00:05

Car Free Day di Rasuna Said Digelar Perdana 10 Mei

Kamis, 07 Mei 2026 | 23:34

Kasus Pemukulan Waketum PSI Bro Ron Berujung Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 23:12

Kali Kukuba di Halmahera Timur Diduga Tercemar Limbah PT FHT

Kamis, 07 Mei 2026 | 23:00

Pemerintah Bebaskan Pajak Restrukturisasi BUMN

Kamis, 07 Mei 2026 | 22:39

Negara Disebut Kehilangan Ratusan Triliun dari Bisnis Sawit

Kamis, 07 Mei 2026 | 22:15

Akper Husada Naik Kelas Jadi STIKES

Kamis, 07 Mei 2026 | 22:06

Dugaan Jual Beli Jabatan Pemkab Cianjur Bisa Rusak Meritokrasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 21:27

DPR Usul 1 Puskesmas Punya 1 Psikolog

Kamis, 07 Mei 2026 | 21:04

New Media Merasa Dicatut, DPR Minta Bakom Lebih Hati-hati

Kamis, 07 Mei 2026 | 20:50

Selengkapnya