Berita

djan faridz/net

Politik

PPP Djan Faridz Jelaskan Duduk Kisruh Internal ke DKPP

KAMIS, 05 FEBRUARI 2015 | 18:03 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

. Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) versi Munas Jakarta, Djan Faridz menjelaskan duduk perkara dualisme kepengurusan di internal PPP ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Dalam kunjungan ke DKPP, Djan berharap penyelenggara pemilu tidak lagi mendengar ada banyak kepengurusan PPP.

"Disini saya ingin menjelaskan duduk perkara di PPP, sebagai sahabat Prof Jimly (Jimly Asshidiqqie, Ketua DKPP) adalah sahabat saya. Saya tak ingin ada 1, 2, 3 atau empat (kepengurusan) PPP," ujarnya di kantor DKPP, Jalan MH Thamrin, Jakpus, Kamis (5/2).

Djan menjelaskan, awal kisruh PPP terjadi saat Sekjen PPP Romahurmuziy memecat Ketua Umum Suryadharma Alie dan menggelar Muktamar.


"Awalnya karena Sekjen kami Romi memecat ketua umumnya Pak Suryadharma. Lalu Pak Suryadharma memanggil Romi untuk memberitahu mekanisme pemecatan ketua umum hanya bisa lewat Muktamar atau Muktamar Luar Biasa, namun Romi tak mau," ucapnya.

Akhirnya, lanjut Mantan Menteri Perumahan Rakyat ini, Romi diberi surat pemecatan karena melanggar AD/ART partai. Tak terima atas pemecatan itu, Romi lantas menggelar Muktamar yang mengangkat dirinya sebagai ketua umum.

"Setelah dipecat, Romi menggelar Muktamar di Surabaya. Ia lebih dulu menggelar Muktamar sebelum kami. Muktamar itu mengangkat Romi sebagai ketua umum," terangnya.

Setelah Muktamar, Romi mengajukan kepengurusannya ke Kemkumham dan disahkan hanya sehari setelah Menkumham Yasona Laolly dilantik. Meskipun kemudian, Djan Faridz menggugat ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTUN).

"Lalu mereka mendaftarkan kepengurusan ke Kemenkumham dan disahkan. Saya tanya kenapa langsung disahkan? Karena ada rekomendasi dari pak Tedjo (Menkopolhukam Tedjo Eddhi Purdjianto). Pak Tedjo mungkin lihat ada Muktamar dan Kuorum jadinya sah, dia nggak lihat yang mana pengurus sebelumnya yang sah," ungkap Djan Faridz.

Kini Djan mengklaim, pengurus PPP masih dalam status quo karena belum ada putusan dari PTUN.

"PTUN menyatakan surat Kemenkumham belum berlaku hingga ada putusan PTUN, hingga saat ini belum ada putusan dari PTUN, jadi surat itu belum berlaku," tandasnya. [rus]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Pakar HTN Sambut Baik Putusan MK Perkuat Kedudukan Hasil Audit BPK

Selasa, 21 April 2026 | 18:18

Refly Harun soal Info P21 Kasus Ijazah Jokowi: Itu Ngarang!

Selasa, 21 April 2026 | 18:17

Efek Domino MBG, Pendapatan Petani Naik 60 Persen

Selasa, 21 April 2026 | 18:13

Hadiah Hari Kartini: Pengesahan UU PPRT Lindungi Pahlawan Domestik

Selasa, 21 April 2026 | 18:04

Staf PBNU Mangkir dari Panggilan, KPK Siap Jadwal Ulang

Selasa, 21 April 2026 | 17:52

RUU PPRT Disahkan DPR Bukti Perempuan Hadir di Parlemen

Selasa, 21 April 2026 | 17:43

Peringati Hari Kartini, KPP: Perempuan Harus Aktif dari Suara ke Aksi

Selasa, 21 April 2026 | 17:42

Huawei Rilis Pura 90 Series, Ini Spesifikasi, Fitur Kamera, dan Harganya

Selasa, 21 April 2026 | 17:16

Staf Orang Kepercayaan Maidi Dicecar KPK soal Penampungan Dana CSR

Selasa, 21 April 2026 | 17:13

13 WNI Jadi Korban Kebakaran 1.000 Rumah Apung di Malaysia

Selasa, 21 April 2026 | 17:10

Selengkapnya