Berita

ilustrasi/net

Dunia

India Punya Lebih Banyak Miliarder Ketimbang Rusia

KAMIS, 05 FEBRUARI 2015 | 14:46 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Perkembangan pesat ekonomi India membuat negara tersebut berhasil menjadi negara ketiga di dunia yang memiliki banyak orang super kaya.

Menurut survei tahunan yang dilakukan oleh perusahaan riset Harun, negara ekonomi terbesar ketiga di Asia itu tercatat memiliki 97 miliarder. Jumlah tersebut meningkat 27 dari tahun sebelumnya.

Dalam data yang sama, seperti dimuat CNN Money (Rabu, 4/2), ditemukan bahwa India berhasil menyusul Rusia dan Inggris. India hanya kalah dari Amerika Serikat dan Tiongkok.


Perekonomian India sendiri diketahui mulai pulih dari periode terlemah selama beberapa dekade. Analis memperkirakan bahwa hal itu didorong oleh menurunnya harga minyak mentah dunia dan reformasi kebijakan India. Bahkan bila trennya terus berkembang, India diperkirakan bisa melampaui Tiongkok pada tahun 2016 mendatang.

Perkembangan ekonomi itu sendiri membawa pasar saham India menjadi lebih tinggi. Benchmark indeks India tumbuh 48 persen dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Hal itu turut menjadi faktor kunci dalam pembengkakak jumlah miliarder di India.

Masih dalam data yang sama, sektor yang tercatat paling banyak berkembang hingga menciptakan miliarder-miliarder baru di India adalah manufaktur dan obat-obatan.

Namun di sisi lain, ketika perekonomian India tengah mendapatkan angin segar, hal yang sama tidak terjadi di Rusia,

Turunnya harga minyak dunia, jatuhnya nilai tukar mata uang rubel, serta sanksi dari negara-negara Barat mendorong Rusia memasuki masa resesi. Hal itu juga berimbas pada kerugian yang dialami oleh miliarder di Rusia.

Pada tahun lalu, jumlah miliarder di Rusia berkurang 10. Saat ini tercatat ada 93 miliarder di Rusia. Namun, 60 persen di antaranya telah menunjukkan tanda-tanda bahwa kekayaan mereka mengalami penyusutan.

Harun menyebut bahwa jumlah miliuner secara global telah meningkat 222 pada tahun lalu. Secara total keseluruhan saat ini ada 2089 miliarder. Di antara jumlah tersebut, Amerika Serikat dan Tiongkok masih mendominasi. [mel]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sekolah Rakyat dan Investasi Penghapusan Kemiskinan Ekstrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03

Agenda Danantara Berpotensi Bawa Indonesia Menuju Sentralisme

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45

JMSI Siap Perkuat Peran Media Daerah Garap Potensi Ekonomi Biru

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34

PP Himmah Temui Menhut: Para Mafia Hutan Harus Ditindak Tegas!

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29

Rezim Perdagangan dan Industri Perlu Dirombak

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15

GMPG Pertanyakan Penanganan Hukum Kasus Pesta Rakyat Garut

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02

Roy Suryo Ogah Ikuti Langkah Eggi dan Damai Temui Jokowi

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00

GMNI: Bencana adalah Hasil dari Pilihan Kebijakan

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42

Pakar Hukum: Korupsi Merusak Demokrasi Hingga Hak Asasi Masyarakat

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28

DPR Setujui Anggaran 2026 Komnas HAM Rp112 miliar

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26

Selengkapnya