Berita

net

Politik

TIME: Jokowi Membuat Rakyat Jadi Skeptis

JUMAT, 30 JANUARI 2015 | 11:40 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Dukungan publik terhadap sosok "harapan baru" Indonesia sedang terpuruk, diawali dengan deretan skandal publik dan tidak terbuktinya janji-janji kampanye di 100 hari pertama pemerintahnnya.

Demikian TIME menggambarkan kejatuhan dukungan publik di Indonesia terhadap Presiden Joko Widodo alias Jokowi di awal masa kerjanya bersama Wapres Jusuf Kalla.

Jokowi tak sekali ini jadi bahan berita TIME. Tidak lama setelah Jokowi dilantik sebagai presiden, Majalah TIME pernah memuat foto Jokowi sebagai sampul dengan judul headline berbunyi, "A New Hope" atau "Sebuah Harapan Baru".


Kontan, kala itu, wajah Jokowi di sampul majalah bergengsi tersebut menimbulkan kehebohan di kalangan pengguna media sosial Indonesia. Tak lama kemudian, Jokowi pun masuk nominasi Person of the Year Majalah TIME pada 2014.

Namun kini sosok yang disanjung itu mulai mendapat tohokan tajam. Dalam sebuah artikel bertajuk "Indonesia’s Jokowi Marks 100 Days of Presidency With Scandal, Falling Support" yang terbit persis 100 hari pemerintahan Jokowi (28/1/2015), TIME mengistilahkan dukungan kepada Jokowi sedang mengalami "pendarahan".

Kepemimpinan Jokowi disebut melahirkan beberapa krisis politik yang justru membuatnya jatuh di lubang yang digalinya sendiri. Reporter TIME, Yenni Kwok, mencatat, degradasi dukungan kepada Jokowi berawal dari langkahnya yang mengejutkan publik di Indonesia dengan menunjuk Budi Gunawan sebagai Kepala Kepolisian (9 Januari).

Tak lama kemudian (13 Januari), Budi yang dulunya adalah ajudan Presiden Megawati Soekarnoputri, bos PDI Perjuangan, dijadikan tersangka korupsi oleh KPK dalam kasus rekening gendut. Hal ini diperparah dengan manuver Polri yang menangkap Wakil Ketua KPK, Bambang Widjoojanto, dalam kasus kesaksian palsu ketika masih menjadi pengacara dalam sengketa Pilkada di Mahkamah Konstitusi pada tahun 2010 lalu.

Semua kejadian itu memancing emosi rakyat Indonesia. Disebutkan, presiden yang mempunyai prestasi hebat dalam karir politiknya ini mengubah optimisme rakyat menjadi skeptis.

"Seratus hari Jokowi berhasil membuat masalah yang kompleks dengan hal-hal yang dibuatnya sendiri," kata dosen Politik Asia Tenggara di Universitas Murdoch di Perth, Australia, Jaqui Baker, yang dikutip TIME.

Meskipun demikian, Jokowi dianggap masih memiliki ketegasan dalam kepemimpinannya, seperti dalam isu penembakan kapal pencari ikan ilegal, eksekusi mati terpidana narkoba, penguatan poros maritim dan turun langsung dalam menangani kecelakaan pesawat AirAsia yang terjadi akhir tahun lalu.

Baker juga menyebut Jokowi seolah tersandera kekuatan politik yang membantunya dalam Pilpres 2014 lalu, yaitu Mega-Paloh.

Bahkan, kalaupun Jokowi berhasil keluar dari polemik "Cicak Vs Buaya" ini dengan selamat, lanjut artikel tersebut, ujian politik terhadap Jokowi belumlah usai. Mungkin tidak akan menjadi yang terakhir kalinya Jokowi berada di posisi terjepit antara keinginan para pemilihnya dan keinginan kekuatan partai dan tokoh politik yang menjadikannya presiden.

"Beberapa pendukung terbesarnya telah menjadi kritikus paling sengit, dan beberapa sudah berkelakar soal siapa lagi sosok yang harus mereka pilih di Pemilihan Presiden berikutnya. Dan itu bukan pertanda baik di tiga bulan pertama pemerintahannya," tutup artikel tersebut. [mhs/ald]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

DPR Tak Setuju Skema War Tiket Haji Meski Masih Wacana

Minggu, 12 April 2026 | 14:01

PM Carney Tegas Akhiri Ketergantungan Militer Kanada pada AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:52

Pemerintah Tak Perlu Reaktif Respons Usulan JK

Minggu, 12 April 2026 | 13:40

Pembicaraan Damai di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan, GREAT Institute: Buah dari Inkonsistensi AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:34

Pengawasan Kasus Hukum oleh DPR Bukan Intervensi

Minggu, 12 April 2026 | 13:11

Negosiasi 21 Jam Gagal, Iran Sebut Tuntutan AS Tak Masuk Akal

Minggu, 12 April 2026 | 13:08

Perundingan Damai Iran dan AS Berakhir Tanpa Hasil

Minggu, 12 April 2026 | 12:26

Hasan Nasbi Sebut Pernyataan Saiful Mujani Ajakan Jatuhkan Pemerintah

Minggu, 12 April 2026 | 12:23

Prabowo Harus Singkirkan Menteri Titipan Era Jokowi

Minggu, 12 April 2026 | 12:15

Seluruh Elemen Pemerintahan Jangan Menunda Kepindahan ke IKN

Minggu, 12 April 2026 | 12:01

Selengkapnya