Berita

net

Politik

Hari Ini 100 Hari Pertama Rezim Jokowi, PPRI Gelar Aksi Nasional "Jokowi-JK Bukan Kita"

RABU, 28 JANUARI 2015 | 08:30 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Tepat 100 hari pertama Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) memerintah, catatan buruk menempel pada kinerja pemerintah di bidang penyejahteraaan rakyat, pemberantasan korupsi dan penegakan hukum.

Berkaitan itu, hari ini, Pusat Perlawan Rakyat Indonesia menggelar aksi nasional "100 Hari Jokowi-JK".

Dalam rilis yang diterima redaksi, organisasi gerakan mahasiswa, buruh, rakyat miskin dan dosen-dosen progresif akan mengusung isu "Jokowi-JK Rezim Neolib, Gagal Beri Kepastian Kesejahteraan Rakyat, Jokowi- JK Bukan Kita".


Kalau tak ada aral melintang, aksi bakal dimulai pukul 10.00 WIB nanti menuju kawasan Istana Negara.

Akhir-akhir ini, berbagai kritik tajam kepada pemerintahan Jokowi-JK terkait kinerja jelang 100 hari pemerintahan dilontarkan para aktivis LSM dan analis politik.

Analis politik dari Universitas Parahyangan Bandung, Asep Warlan Yusuf, menyatakan, pemerintahan Jokowi-JK banyak melahirkan blunder. Hal ini sebagai akibat dari komunikasi dan koordinasi yang buruk dengan kementerian.

"Menjelang 100 hari pemerintahan, ternyata Jokowi-JK tak sesuai harapan publik selama ini. Sangat mengecewakan," kata Asep, Rabu (21/1).

Kalangan aktivis menilai, selama 100 hari ini, banyak kebijakan yang dibuat pemerintahan Jokowi-JK justru melenceng dari janji-janjinya ketika berkampanye di Pilpres 2014 dengan mengambil konsep Trisakti dan dituangkan dalam program Nawacita.

Salah satunya kebijakan fenomenal yang berdampak luas adalah pencabutan subsidi bahan bakar minyak (BBM).

"Ada logika yang keliru ketika Jokowi mengatakan bahwa subsidi BBM terlalu besar dan membebani APBN," kata koordinator Pusat Perlawanan Rakyat Indonesia (PPRI) Lamen Hendra Saputra dalam jumpa pers di kantor YLBHI, Jalan Diponegoro, Jakarta, Senin (26/1).

Menurutnya, akar persoalan BBM adalah ketiadaan daulat negara dalam mengelola sektor hulu migas, dan pembiaran negara terhadap mafia migas yang menguasai sektor hilir. [ald]


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Tumbuhkan Mimpi Puluhan Anak Nelayan Cilincing Lewat Nobar Film

Senin, 14 September 2026 | 03:18

Sejumlah Alutsista TNI Gercep Sisir Korban KM Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 02:55

Kesehatan di Tepi Republik

Senin, 14 September 2026 | 02:29

Ekonomi Batam Tumbuh 7,28 Persen Bukti Kepercayaan Dunia Usaha Terus Menguat

Senin, 14 September 2026 | 01:54

Terpilih jadi Ketum HPK Kosgoro 1957, Eric Hermawan Langsung Tancap Gas Konsolidasi

Senin, 14 September 2026 | 01:24

Abu Vulkanik Berbahaya bagi Air dan Ikan, Begini Penjelasannya

Senin, 14 September 2026 | 00:55

KDM Dinilai Lebih Utamakan Pencitraan Ketimbang Solusi Defisit APBD Jabar

Senin, 14 September 2026 | 00:33

Menuju HUT ke-81, Panglima TNI Buka Rangkaian 72 Lomba Open Turnamen

Senin, 14 September 2026 | 00:11

SOKSI Siap Tempuh Jalur Hukum Gugat 'Bocor Alus Tempo'

Minggu, 13 September 2026 | 23:48

Asta Cita, Zakat, dan Jalan Baru Mengentaskan Kemiskinan

Minggu, 13 September 2026 | 23:24

Selengkapnya