Berita

anas-sby/net

Politik

Anas Urbaningum Ingatkan Janji SBY Soal Jabatan Ketum Demokrat

SELASA, 06 JANUARI 2015 | 13:32 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Admin twitter @anasurbaningrum  milik mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, melanjutkan kultwit yang bertema #kisahkongres. Kicauan ini berasal dari Anas sendiri yang mendekam di dalam sel tahanan akibat kasus korupsi.

Pekan lalu kultwit Anas menyebut beberapa nama yang disebut pantas menjadi calon Ketua Umum Demokrat, juga tentang kepantasan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mencalonkan diri kembali. Anas meminta SBY bertanya kepada hati kecilnya sendiri soal kelayakan maju kembali dalam Kongres Demokrat.

"Kelayakan dan kepantasan agak berimpit, tetapi jelas dua hal yang berbeda," ujar Anas lewat kultwitnya beberapa saat lalu, Selasa siang (6/1)


Menurut dia, ada konteks yang melatari permintaannya agar menanyakan soal kepantasan itu kepada SBY sendiri.

"Pada saat KLB (kongres luar biasa) di Bali, Pak SBY menyatakan hanya akan jadi Ketum Demokrat tidak lama. Sebentar saja. Hanya untuk keselamatan Demokrat yang tahun 2013 itu sudah persiapan menuju Pileg 2014. Ada yg menyebut hanya akan jadi Ketum sampai selesai Pileg 2014 saja. Untuk mengatasi situasi 'darurat'," ungkap Anas.

Kala itu, lanjut Anas, isu keselamatan dan situasi "darurat" partai pula yang digunakan Pak SBY untuk hentikan Marzuki Alie. Dengan sebuah SMS panjang dan beberapa poin, SBY "menekan" agar Marzuki mundur. Penggalangan untuk Marzuki di Ancol berubah menjadi dukungan kepada SBY.

"Mungkin sebagai Ketua DPR waktu itu Pak Marzuki banyak pertimbangan untuk berbeda dengan Pak SBY. Setelah sekarang bukan lagi Ketua DPR, apakah Pak Marzuki jadi berani maju? Infonya masih maju-mundur," urainya.

Dia mempertanyakan, apakah SBY layak kembali mencalonkan diri menjadi Ketum lagi dengan melanggar janji? Bagi yang tidak setuju, tentu akan menagih janji yang merupakan utang. Bagi yang bersemangat mendukung SBY, tentu akan punya alasan lain yaitu "diminta para kader".

Anas tekankan bahwa yang paling tepat menjawab soal kepantasan itu adalah takaran moralitas politik pribadi SBY sendiri.

"Ada falsafah Jawa 'sabdo pandito ratu, tan keno wola-wali'. Perkataan pemimpin harus bisa dipegang," tegasnya. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

UPDATE

Harga Minyak Dunia Merangkak Naik ke 93 Dolar AS

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:17

TransNusa dan Tourism Malaysia Ajak Media Eksplorasi Penang, Perlis hingga Langkawi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:57

Rupiah Perpanjang Tren Positif di Jumat Pagi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:51

Strategi Mendapatkan Libur Panjang Saat Peringatan Maulid Nabi 2026

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:46

OTT Rektor Unsoed, KPK Tangkap 14 Orang dan Amankan Uang Ratusan Juta

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:35

IHSG Naik ke 6.526,30, Saham Mayoritas Menguat

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:20

Salah Paham tentang Kembali ke UUD 1945

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:06

Kebutuhan Pangan Pengungsi NTT Dipastikan Terpenuhi, Stok Beras 39 Ribu Ton

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:00

Bursa Asia Merah Tergusur Sentimen Wall Street

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:58

Terjaring OTT KPK, Rektor Unsoed Diduga Terkait Korupsi PMB

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:49

Selengkapnya