Berita

ilustrasi/net

KONGRES DEMOKRAT

Kecil Kemungkinan Demokrat Pecah Seperti Dialami Golkar dan PPP

SENIN, 29 DESEMBER 2014 | 14:46 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Kecil kemungkinan Kongres Partai Demokrat akan berujung pada perpecahan seperti yang dialami oleh Partai Golkar dan PPP. Sebab pertama, SBY berbeda dengan Aburizal Bakrie di Partai Golkar atau Suryadharma Ali di PPP.

"Golkar itu partai tua. Kaderisasi kepemimpinan di partai itu berjalan dengan baik, sehingga dari waktu ke waktu Golkar selalu mampu melahirkan tokoh-tokoh baru yang kemudian saling berebut pengaruh di dalam partai," kata Direktur Eksekutif Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahuddin, kepada Kantor Berita Politik RMOL beberapa saat lalu (Senin, 29/12).

Menurut Said, dinamika persaingan di internal Golkar masih turut dipengaruhi oleh keberadaan ormas-ormas pendiri partai tersebut, yakni Kosgoro, MKGR, dan Soksi. Dan seperti halnya Golkar, PPP juga merupakan partai tua yang di internalnya kerap muncul persaingan antar tokoh dari tiap unsur penyokong partai itu, yakni NU, Parmusi, dan Sarikat Islam.


"Nah, kepemilikan 'saham' kolektif yang memunculkan persaingan antar tokoh di internal partai tua seperti Golkar dan PPP tersebut tidak terjadi di Partai Demokrat," jelas Said.

Demokrat, lanjut Said, tidak dilahirkan oleh sekumpulan ormas atau lahir dari hasil fusi partai-partai politik. Demokrat didirikan oleh dan untuk kepentingan politik seorang tokoh bernama SBY. Tumbuh-kembang partai itu pun ditopang oleh popularitas dan ketokohan SBY.  

Sebagai partai yang terbilang baru, di internal Demokrat belum pula muncul persaingan antar tokoh, apalagi persaingan yang melibatkan SBY.

"Disinilah dapat kita katakan bahwa secara internal Partai Demokrat cenderung lebih solid dibandingkan dengan Golkar dan PPP, sehingga partai tersebut tak mudah pecah saat menggelar Kongres, betapapun misalnya SBY dipilih secara aklamasi untuk menahkodai partai itu," demikian Said. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

NATO Turun Gunung Usai Trump Mau Tarik 5 Ribu Pasukan dari Jerman

Minggu, 03 Mei 2026 | 00:03

Komdigi Dorong Sinergi Penegakan Hukum Ruang Digital

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:45

Wamenkeu soal Purbaya Masuk RS: Insya Allah Sehat, Doakan Saja!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:32

Negosiasi Berjalan Buntu, Trump Tuding Iran Tidak Punya Pemimpin Jelas

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:19

Pernyataan Amien Rais di Luar Batas Kritik Objektif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:51

Sekolah Tinggi, Disiplin Rendah: Catatan Hardiknas

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:38

Aktivis 98: Pernyataan Amien Rais Tidak Cerminkan Intelektual

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:18

Wakil Wali Kota Banjarmasin Dinobatkan Sebagai Perempuan Inspiratif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 21:48

KAI Pasang Pemasangan Palang Pintu Sementara di Perlintasan Jalan Ampera

Sabtu, 02 Mei 2026 | 21:34

Paguyuban Tak Pernah Ideal, Tapi Harus Berdampak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 20:52

Selengkapnya