. Sepanjang tahun 2014 ada 13 kasus salah tembak atau aksi koboi-koboian yang dilakukan polisi. Akibatnya, 27 orang jadi korban.
Beberapa saat lalu (Kamis, 25/12), Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, merinci aksi polisi koboi tersebut.
Pertama, pada 8 Desember 2014, empat warga tewas tertembak dan 13 lainnya luka berat dirawat di RSUD Madi, Enarotali, Paniai, Papua, setelah massa menyerang polsek setempat. Peristiwa ini terjadi setelah seorang warga pingsan dipukuli polisi, yang membuat massa protes dan menyeraang polsek. Keempat korban penembakan adalah Habakuk Degei, Neles Gobay, Bertus Gobai, dan Apinus Gobai.
Kedua, pada 30 November 2014, Brigadir CK anggota Direktorat Narkotika Polda Jabar melakukan aksi koboi di tempat hiburan malam di Paskal Hypersquare, Jalan
Pasirkaliki, Bandung. CK marah-marah dan melepaskan tembakan dua kali
setelah tidak terima biling yang dikenakan padanya sebesar Rp 966.000.
Ketiga, pada 13 Agustus 2014, Digit Ginansah (18), warga Lapang Desa Glempang, Cilacap, Jateng jadi korban peluru nyasar Brigadir S, anggota Polres Banyumas. Saat itu Brigadir S tengah mengawal pengisian ATM. Lalu ada seorang wanita yang dirampok dan Brigadir S melepaskan tembakan peringatan yang mengenai pundak kanan korban hingga luka.
Keempat, pada 4 Agustus 2014, tanpa diketahui sebabnya, anggota Provost Polsek Tallo, Bripka Muslimin, menembak betis kanan Muhammad Arif (12). Peristiwa ini
terjadi di kompleks Pasar Pannampu, Makassar, Sulsel. Saat itu, korban tengah bermain bola di komplek pasar.
Kelima, pada 2 Juli 2014, dua anggota Polsek Banjaransari, Ciamis, Jabar, yakni Aiptu Tatang Sukian dan Bripka Hadi Purwanto saling tembak akibat bertengkar soal piket jaga. Akibatnya, Bripka Hadi Purwanto tewas dengan luka tembak di bagian kepala.
Keenam, pada 12 Juni 2014, Briptu TA anggota Brimob Polda Riau yang sedang di-BKO di Polres Dumai menembak komandan regunya Aipda Heri Suprapto, dengan senjata laras panjang. Akibatnya, lutut korban luka. Penembakan ini terjadi karena pelaku tersinggung dengan ucapan komandannya
Ketujuh, pada 14 Mei 2014, Nurhalimah Utari (10) tewas setelah tertembak di bagian dada saat bermain di sekitar rumahnya. Diduga korban tertembak anggota Polsek Plaju, Palembang, Sumsel yang sedang mengejar penjambret di kawasan itu. Namun polisi membantah dugaan ini.
Kedelapan, pada 6 Mei 2014, Bripka E luka tertembak pistolnya sendiri saat ribut dengan seorang wanita, Irianti di Jalan Cut Nyak Dien, Pekanbaru, Riau. Saat itu antara Bripka E dan Irianti ribut di dalam mobil. Kemudian terjadi rebutan pistol antar keduanya hingga pistol itu meletus dan pelurunya menerjang kaki Bripka E.
Kesembilan, pada 25 Maret 2014, gara-gara senggolan Bripka OS anggota Polsek Pondok Gede dan Bripka A anggota Polres Jakarta Timur adu jotos di sebuah cafe di kawasan Pinang Ranti, Jakarta Timur. Bahkan Bripka A melepaskan tembakan
hingga membuat warga panik.
Kesepuluh, pada 18 Maret 2014, Kepala Denma Polda Metro Jaya AKBP Pamudji tewas ditembak anak buahnya Brigadir Santoso di markas Polda Metro Jaya.
Kesebelas, pada 15 Februari 2014, Anggota Polsek Jatiuwung Bripka Lasmidi luka luka ditembak oknum polisi di Cimone Tangerang, Banten, saat hendak menangkap pelaku kejahatan di angkutan umum.
Keduabelas, pada 12 Februari 2014, maksud hati hendak menonton balapan liar Mohammad Soleh alias Deden (17) malah tewas terkena tembakan anggota resmob Polres Jakarta Timur, Iptu Gunawan Saragih, yang saat itu tengah melerai perkelahian di depan komplek Menzikon, Cijantung.
Ketigabelas, pada 17 Januari 2014, Pistol Bripka HR anggota Tim Unit Narkoba Polsek Kembangan yang diletakkan di atas menja tiba-tiba meletus. Pelurunya menerjang Suwardi, pemilik warung kopi di Jalan Peta Barat, Kalideres, Jakarta Barat. Akibat, korban mengalami luka parah. Peluru mengenai dada kanannya hingga tembus.
[ysa]