Berita

Olahraga

Sayang, Iptek Masih Dianggap Bumbu Olahraga

JUMAT, 19 DESEMBER 2014 | 08:17 WIB | LAPORAN:

Indonesia harus benar-benar menerapkan sport science, jika ingin mampu bersaing dengan atlet dari negara lain. Masih banyak pelatih di Tanah Air tak mau menerapkan sport science karena mereka menganggap iptek justru mempersulit pekerjaannya.

"Tanpa memanfaatkan sport science, prestasi olahraga atlet Indonesia akan terus tertinggal dari negara lain. Hingga kini masih ada pelatih yang menganggap iptek hanya sebagai bumbu olahraga. Padahal, iptek harus dijadikan sebagai bahan baku untuk pencapaian prestasi olahraga," ujar Deputi IV Bidang Pembinaan Prestasi Olahraga Kemenpora, Djoko Pekik Irianto di Jakarta.

Selain adanya pelatih yang menganggap iptek justru mempersulit pekerjaannya, Djoko juga membeberkan bahwa kendala saat ini adalah masih banyak riset yang belum berorientasi pada need and problem. Maksudnya, praktisi dan akademisi asyik bermain pada zona masing-masing. Namun Djoko mengakui bahwa anggaran riset di Indonesia masih terbatas.


Anggaran riset di Indonesia untuk tahun anggaran 2013-2014 hanya 0,9 persen. Padahal Jepang meyiapkan dana tiga persen untuk riset, Tiongkok (1,9 persen), dan India (1,2 persen).

Untuk program pengembangan iptek keolahragaan, Djoko Pekik mengusulkan agar Indonesia mendirikan Institut Olahraga Indonesia (IOI), menyelenggarakan riset tepat guna bersama PP/PB Cabang Olahraga bekerja sama dengan Perguruan Tinggi (PT).

Hal senada dikemukakan Ketua Bidang Sport Science dan Iptek KONI Pusat, DR Zainal Abidin. "Kalau Indonesia secara serius menerapkan sport science, atlet Indonesia bisa berbicara banyak di dunia internasional," kata Zainal.

Dia mencontohkan, untuk sepakbola misalnya, PSSI belum menerapkan sepenuhnya sport science. Padahal sudah lama dia mengusulkan. "Sudah lama saya mengusulkan PSSI menerapkan sport science kepada para pemainnya. Namun ternyata PSSI belum menjalankannya," tambahnya.

Untuk pemain depan misalnya, kata Zainal, minimal mereka harus mampu berlari 11-12 detik untuk jarak 100 meter, pemain tengah 12-13 detik untuk 100 meter, dan pemain belakang 12-14 detik. "Sementara untuk jarak 8 ribu meter, seorang striker minimal harus mampu berlari 40-42 detik, pemain tengah (38-40 detik), dan pemain belakang (40-42 detik). Seorang pemain sepakbola harus bisa memenuhi ketentuan ini," tegasnya.[wid]

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Pajak Karbon Motor Bensin Bisa Tekan Emisi dan Ketergantungan Impor BBM

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:25

Istana Sampaikan Duka Cita atas Gempa NTT, Gerak Cepat Lakukan Penanganan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:19

Gempa NTT: Gudang Bulog Hancur, Manggarai Butuh 30 Ton Beras

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:02

Akses Jalan Rusak, Komisi V DPR Minta Evakuasi Via Udara Jangkau Korban Gempa NTT

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:00

Gempa NTT, Komisi V DPR Minta BMKG-Basarnas Konsolidasikan Bantuan SAR dari Provinsi Terdekat

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:55

Persiapan HUT ke-81 RI di Istana Merdeka Capai 99 Persen

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:52

Update Gempa NTT: 14 Warga Meninggal Dunia

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:41

Purbaya Sebut Dana Transfer ke Daerah Naik Jadi Rp735 Triliun Tahun Depan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:38

Komisi V DPR Minta BMKG Aktif Update Situasi Gempa NTT

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:32

Terkuak! Alasan Kapal Pesiar Mewah Haji Isam Dipasangi Logo Kemhan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:17

Selengkapnya